Alhamdulillah
Rejeki Allah
itu datang dari jalan yang tidak diduga – duga. Hari ini aku pulang. Tentu
dengan menyelesaikan tugasku. Agak berat memang namun ku coba luruskan niat
meyakinkan hati. Sebelum pulang aku sempatkan kerja dahulu. Berharap tidak ada
kerja memang, namun kenyataannya ada, dan harus aku hadapi. Hujan mengiringi
langkah pulang. Seperti biasa, aku sempatkan dan sisihkan uang untuk membeli
oleh – oleh buat adik kecilku. Air semakin banyak mengguyur bumi. Waktu sudah
mendekati petang, namun aku yakinkan hati Allah maha penolong. Satu menit, dua
menit setengah jam aku menunggu bis dibawah rintik hujan ditemani seorang ibu
yang habis diklat kepustakaan.
“Ibu menawi
jam sak menten bis wonten penggaron niku mpun mboten wonten bu. Niki dinten
minggu wau mpun di oper – oper bu.”
“Lha biasane
yah mene jek ana bis mas.”
“Niki dinten minggu
bu, mending sakniki numpak Damri mandap tugu muda, mengke nimbal teng
penggaron, niku mung mbayar telu setengah, nek numpak mriki sepuluh ewu pitung
ewu bu.”
“Piye mba? Aku
ki rak tau lewat kono, sampeyan reti ora mbak?”
“Insyallah
ngertos bu, monggo.”
...........************.......................(1
menit kemudian)
“bu bu iki bis
e bu, seh ana”
“Alhamdulillah.”
Memang Allah
maha penolong. Itu adalah bis terakhir dan setelah mendapatkan penumpang kami
berdua, bis itu lewat jalan TOL. Subhanallah. Rencana Allah selalu indah. Andai
saja bis itu lewat jalan tol yang sebelum itu pastilah kami berdua tak dapat
bis. Dengan lewat jalan TOL hanya butuh
waktu 10 menit untuk bisa sampai terminal. Alhamdulillah masi ada bus menuju
Purwodadi dan masih relatif kosong, sehingga aku kebagian tempat duduk. Lima
menit kemudian, bus sudah sesak, bahkan untuk berdiri saja tidak ada,,, karena
memang sudah bus terakhir dan itu jam pulang kerja.
Puji syukur
senantiasa mengalir untuk Allah. Tepat adzan isya’ sampai di terminal
purwodadi, awalnya bis akan lewat simpang lima, ternyata tidak karena hanya ada
3 penumpang yang akan turun di simpang lima. Dan benar saja kami diturunkan di
terminal dengan kondisi masih huan tidak ada angkot, tidak ada becak, yang ada
hanya OJEK. Dan tahu pastinya biasanya siapa tukang ojeknya yang pasti pria,
dan tahu bagaimana naik ojek pasti tepat dibelakang pak ojek. Tapi
Alhamdulillah semua berjalan lancar. Aku mendapat pak ojek yang sudah setengah
baya, ia mengajak anaknya, jadi kami tidak berdua, dan saat ini hujan, bapaknya
mengenakan jas hujan, dan aku diluar jas. Jadi kami menggunakan hijab yaitu jas
hujan, heheheh....
Bapak ojek ini
baik sekali, bliau berhati lembut. Terlihat dari bagaimana bicaranya, bagaimana
naik motornya. Anaknya diajak ngojek hujan – hujan begini, padahal sedang batu.
Aku jadi berpikir ulang dengan harga yang di tawarkan bapak ini hanya 7 ribu,
kalau dipikir 10 ribu pun akan aku bayar, soalnya memang sudah gak ada
transportasi lainnya. Dan satu lagi, bapaknya sudah tahu tempat yang aku tuju
dan kenal tetanggaku, sehingga pembicaraan kami jadi enak.
“assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
serentak jawab seisi rumah.
Hari ini
lengkap, semua ada dirumah, ditambah saudara dari rembang, dan ada bude endang.
Ada yang sedikit berubah memang, kali ini
sudah ada adik terkecil kami. Dan kondisi rumah sedikit lebih
berantakan, karena pembantu yang sudah tidak lagi 24jam bekerja dan dalam
kondisi hamil. Malam ini aku sampai dirumah adek kecil sudah mau tidur.
Kali ini
seperti biasa setelah tiba dirumah orang tua angkat ku aku ditanyai bagaimana
kuliahku, bagaimana beasiswaku, bagaimana sudah sambil kerja apa.
Aku dengan
bangga kali ini katakan kepada mereka. Kuliahku lancar. Beasiswaku tinggal satu
semester lagi. Dan aku sudah kerja jadi accounting dan ngelesi. Penghasilanku
sudah lumayan. SPPku satu juta, tiga semester ini aku sudah bayar sendiri. Aku
katakan ini agar orang tuaku tak lagi khawatir tentangku. Aku sudah mandiri.
Terimakasih atas bimbingan dan penghidupannya selama ini.
Aku ingin
membahagiakan mereka dengan melihat aku sukses dan mandiri. Itu saja. Hanya itu
yang bisa aku berikan sebagai balas jasaku. Karena terlalu besar jasa mereka
dalam hidupku. Aku tahu itu tak akan
terbayar apalagi impas. Tapi aku berusaha memberikan yang terbaik dan
menjadi yang terbaik. Bahwa aku telah lebih baik karena mereka.
Pagi ini Bu
Ernin ada jadwal rias. Aku pagi – pagi telah membereskan semuanya, dan hanya
ada dua perintah dari bu ernin, bersihkan selokan dari tanah dan sampah. Hanya
itu. Ya pagi ini aku dapat bekerja dengan baik.
Bu ernin
bersama kru berangkat diantar mobil. Dek rozak pun ikut meski belum mandi,
belum cuci muka juga. Hehe...
Sebelum
berangkat pesan pak yen “ Engko enteni aku ya nek arek mulih..”
“oh nggih..”
jawabku kidmat.
Setelah satu
jam pak yen pulang, dan langsung mengajak sarapan adek – adekku yang lain,
sebelum keluar
“iki enggo
bayar spp, sejuta..”
“........” aku
hanya terpaku
“Nggo bayar
spp semester ini. Di simpen sing ngati – ati”
“Nggih, matur
nuwun”
Aku masih tak
habis pikir. Dalam sekejab hal yang aku takutkan kini telah teratasi. Selalu
begini keajaiban dan kejutan. Luar biasa. Subhanallah. Sesuatu banget. Kata
terimakasih yang dapat terucap, namun rasa ini begitu besar, dan terlalu besar.
Ya Allah
terimakasih Engkau berikan aku keluarga ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar