Minggu, 30 Desember 2012

Terimakasih ya Robb


Alhamdulillah

Rejeki Allah itu datang dari jalan yang tidak diduga – duga. Hari ini aku pulang. Tentu dengan menyelesaikan tugasku. Agak berat memang namun ku coba luruskan niat meyakinkan hati. Sebelum pulang aku sempatkan kerja dahulu. Berharap tidak ada kerja memang, namun kenyataannya ada, dan harus aku hadapi. Hujan mengiringi langkah pulang. Seperti biasa, aku sempatkan dan sisihkan uang untuk membeli oleh – oleh buat adik kecilku. Air semakin banyak mengguyur bumi. Waktu sudah mendekati petang, namun aku yakinkan hati Allah maha penolong. Satu menit, dua menit setengah jam aku menunggu bis dibawah rintik hujan ditemani seorang ibu yang habis diklat kepustakaan.
“Ibu menawi jam sak menten bis wonten penggaron niku mpun mboten wonten bu. Niki dinten minggu wau mpun di oper – oper bu.”
“Lha biasane yah mene jek ana bis mas.”
“Niki dinten minggu bu, mending sakniki numpak Damri mandap tugu muda, mengke nimbal teng penggaron, niku mung mbayar telu setengah, nek numpak mriki sepuluh ewu pitung ewu bu.”
“Piye mba? Aku ki rak tau lewat kono, sampeyan reti ora mbak?”
“Insyallah ngertos bu, monggo.”
...........************.......................(1 menit kemudian)
“bu bu iki bis e bu, seh ana”
“Alhamdulillah.”
Memang Allah maha penolong. Itu adalah bis terakhir dan setelah mendapatkan penumpang kami berdua, bis itu lewat jalan TOL. Subhanallah. Rencana Allah selalu indah. Andai saja bis itu lewat jalan tol yang sebelum itu pastilah kami berdua tak dapat bis.  Dengan lewat jalan TOL hanya butuh waktu 10 menit untuk bisa sampai terminal. Alhamdulillah masi ada bus menuju Purwodadi dan masih relatif kosong, sehingga aku kebagian tempat duduk. Lima menit kemudian, bus sudah sesak, bahkan untuk berdiri saja tidak ada,,, karena memang sudah bus terakhir dan itu jam pulang kerja.
Puji syukur senantiasa mengalir untuk Allah. Tepat adzan isya’ sampai di terminal purwodadi, awalnya bis akan lewat simpang lima, ternyata tidak karena hanya ada 3 penumpang yang akan turun di simpang lima. Dan benar saja kami diturunkan di terminal dengan kondisi masih huan tidak ada angkot, tidak ada becak, yang ada hanya OJEK. Dan tahu pastinya biasanya siapa tukang ojeknya yang pasti pria, dan tahu bagaimana naik ojek pasti tepat dibelakang pak ojek. Tapi Alhamdulillah semua berjalan lancar. Aku mendapat pak ojek yang sudah setengah baya, ia mengajak anaknya, jadi kami tidak berdua, dan saat ini hujan, bapaknya mengenakan jas hujan, dan aku diluar jas. Jadi kami menggunakan hijab yaitu jas hujan, heheheh....
Bapak ojek ini baik sekali, bliau berhati lembut. Terlihat dari bagaimana bicaranya, bagaimana naik motornya. Anaknya diajak ngojek hujan – hujan begini, padahal sedang batu. Aku jadi berpikir ulang dengan harga yang di tawarkan bapak ini hanya 7 ribu, kalau dipikir 10 ribu pun akan aku bayar, soalnya memang sudah gak ada transportasi lainnya. Dan satu lagi, bapaknya sudah tahu tempat yang aku tuju dan kenal tetanggaku, sehingga pembicaraan kami jadi enak.
“assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” serentak jawab seisi rumah.
Hari ini lengkap, semua ada dirumah, ditambah saudara dari rembang, dan ada bude endang. Ada yang sedikit berubah memang, kali ini  sudah ada adik terkecil kami. Dan kondisi rumah sedikit lebih berantakan, karena pembantu yang sudah tidak lagi 24jam bekerja dan dalam kondisi hamil. Malam ini aku sampai dirumah adek kecil sudah mau tidur.
Kali ini seperti biasa setelah tiba dirumah orang tua angkat ku aku ditanyai bagaimana kuliahku, bagaimana beasiswaku, bagaimana sudah sambil kerja apa.
Aku dengan bangga kali ini katakan kepada mereka. Kuliahku lancar. Beasiswaku tinggal satu semester lagi. Dan aku sudah kerja jadi accounting dan ngelesi. Penghasilanku sudah lumayan. SPPku satu juta, tiga semester ini aku sudah bayar sendiri. Aku katakan ini agar orang tuaku tak lagi khawatir tentangku. Aku sudah mandiri. Terimakasih atas bimbingan dan penghidupannya selama ini.
Aku ingin membahagiakan mereka dengan melihat aku sukses dan mandiri. Itu saja. Hanya itu yang bisa aku berikan sebagai balas jasaku. Karena terlalu besar jasa mereka dalam hidupku. Aku tahu itu tak akan  terbayar apalagi impas. Tapi aku berusaha memberikan yang terbaik dan menjadi yang terbaik. Bahwa aku telah lebih baik karena mereka.
Pagi ini Bu Ernin ada jadwal rias. Aku pagi – pagi telah membereskan semuanya, dan hanya ada dua perintah dari bu ernin, bersihkan selokan dari tanah dan sampah. Hanya itu. Ya pagi ini aku dapat bekerja dengan baik.
Bu ernin bersama kru berangkat diantar mobil. Dek rozak pun ikut meski belum mandi, belum cuci muka juga. Hehe...
Sebelum berangkat pesan pak yen “ Engko enteni aku ya nek arek mulih..”
“oh nggih..” jawabku kidmat.
Setelah satu jam pak yen pulang, dan langsung mengajak sarapan adek – adekku yang lain, sebelum keluar
“iki enggo bayar spp, sejuta..”
“........” aku hanya terpaku
“Nggo bayar spp semester ini. Di simpen sing ngati – ati”
“Nggih, matur nuwun”
Aku masih tak habis pikir. Dalam sekejab hal yang aku takutkan kini telah teratasi. Selalu begini keajaiban dan kejutan. Luar biasa. Subhanallah. Sesuatu banget. Kata terimakasih yang dapat terucap, namun rasa ini begitu besar, dan terlalu besar.
Ya Allah terimakasih Engkau berikan aku keluarga ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar