Senin, 13 Desember 2021

 

Pentingnya Pengetahuan Tentang Kontrasepsi bagi Remaja


Pentingnya Pengetahuan Tentang Kontrasepsi bagi Remaja

Usia remaja termasuk rentang usia ketika organ reproduksi sudah aktif. Oleh karena itu, informasi mengenai kesehatan seksual, termasuk penggunaan kontrasepsi, menjadi sangat penting. Seperti penelitian yang diungkapkan oleh Journal of Sociological Research, kehamilan dan infeksi penyakit menular seksual sangat rentan dialami oleh remaja. 

Penyakit seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan bisa memicu masalah kesehatan fisik maupun psikis. Pembicaraan tentang seks dan kontrasepsi sebaiknya tidak menjadi tabu, untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. Pengetahuan mengenai kontrasepsi adalah satu hal yang perlu menjadi bagian penting bagi remaja.

Kontrasepsi dan Remaja

Kontrasepsi adalah pengaturan fertilitas yang digunakan untuk mencegah kehamilan dan penyakit menular seksual. Wajarnya, kontrasepsi digunakan untuk pasangan menikah yang ingin memberikan jarak kehamilan atau menunda kehamilan. 

Namun, tak bisa dimungkiri, pasangan yang sudah aktif secara seksual juga perlu menggunakan kontrasepsi untuk mencegah penularan infeksi menular seksual atau kehamilan yang tidak diinginkan. 


Ada beberapa metode kontrasepsi, di antaranya adalah metode barier, hormonal, dan non-hormonal. Metode tersebut digunakan sebelum atau selama berhubungan. Selain itu, penggunaan kondom adalah satu-satunya pilihan untuk mencegah kehamilan sekaligus infeksi menular seksual. 

Walau begitu, apapun pilihan kontrasepsinya tidak bisa menjamin 100 persen akurat. Remaja perlu mengetahui kontrasepsi bukan jaminan, melainkan hanyalah sebagai proteksi. Selalu ada konsekuensi dan risiko yang mungkin terjadi saat melakukan hubungan seksual, baik menggunakan atau tidak menggunakan kontrasepsi. 

Berbicara soal seks, terutama kepada remaja, terkadang menjadi hal yang menakutkan. Pasalnya, hal tersebut bertentangan dengan berbagai aspek, mulai dari norma, agama, hingga kesehatan. Apalagi pembicaraan di ruang keluarga, orangtua kerap menghindari obrolan mengenai seks dengan anak.

Seharusnya, sumber terbaik bagi anak remaja untuk mendapatkan informasi mengenai seks adalah keluarga. Ketika ada keterbukaan, maka anak remaja tidak perlu malu ataupun ragu menanyakan perihal perubahan fisik dan pengetahuan seksual kepada orang tua. 


Pentingnya peranan orangtua, maupun lembaga, serta komunitas edukatif untuk memberikan informasi mengenai seks kepada anak remaja. Tanamkan pada remaja untuk berpikir panjang sebelum berani melakukan hubungan seks. Ada begitu banyak risiko di balik perbuatan tersebut

Risiko Melakukan Hubungan Seks di Usia Remaja

Organ reproduksi yang berkembang dan mengalami perubahan, tentunya mengundang rasa penasaran bagi remaja. Ini adalah hal yang normal. Namun, sebelum bergerak di luar batas, ada baiknya remaja mengetahui risiko di balik melakukan hubungan seks di usia yang masih dini. Banyak anak muda terlibat dalam perilaku dan pengalaman risiko seksual yang dapat menyebabkan dampak kesehatan yang tidak diinginkan. 

Menurut data kesehatan yang diperoleh Centers for Disease Control and Prevention, pada 2017, 10 persen remaja SMA di AS memiliki empat atau lebih pasangan seksual, 46 persen tidak menggunakan kondom saat berhubungan seks, 14 persen remaja di AS tidak menggunakan metode apapun untuk mencegah kehamilan, serta 19 persen menggunakan narkoba dan alkohol saat melakukan hubungan seksual.


Bisa dikatakan, seks di usia dini kerap tidak diiringi tanggung jawab, sehingga risikonya jauh lebih besar. Tercatat, pada 2017, 21 persen pengidap HIV di AS berusia 13-24 tahun. Pengidap penyakit menular seks di rentang usia 15–24 tahun berjumlah 10 juta orang. Kemudian, sekitar 210.000 bayi dilahirkan di usia 15-19 tahun.

Data yang diungkapkan di atas masih menyinggung risiko penyakit fisik dan kehamilan yang tidak diinginkan. Belum lagi kondisi mental dan kejiwaan yang mengiringi seperti menurunnya penghargaan terhadap diri sendiri, tidak memiliki konsep hubungan yang benar, serta tekanan sosial dan ekonomi.

Pengetahuan mengenai seks sangat penting di usia remaja. Namun, mendapatkan informasi mengenai seks yang benar jauh lebih penting. 

sumber: halodoc.com

 

Menjaga kesehatan reproduksi adalah hal yang sangat penting, terutama pada remaja. Sebab, masa remaja adalah waktu terbaik untuk membangun kebiasaan baik menjaga kebersihan, yang bisa menjadi aset dalam jangka panjang.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja adalah orang yang berusia 12 hingga 24 tahun. Masa remaja merupakan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Artinya, proses pengenalan dan pengetahuan kesehatan reproduksi sebenarnya sudah dimulai pada masa ini. Secara sederhana, reproduksi berasal dari kata “re” yang berarti kembali dan “produksi” yang artinya membuat atau menghasilkan.

Reproduksi bisa diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam menghasilkan kembali keturunan. Karena definisi yang terlalu umum tersebut, seringnya reproduksi hanya dianggap sebatas masalah seksual atau hubungan intim. Alhasih, banyak orang tua yang merasa tidak nyaman untuk membicarakan masalah tersebut pada remaja. Padahal, kesehatan reproduksi, terutama pada remaja merupakan kondisi sehat yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi.

Kurangnya edukasi terhadap hal yang berkaitan dengan reproduksi nyatanya bisa memicu terjadinya hal-hal yang tak diinginkan. Salah satu hal yang sering terjadi karena kurangnya sosialiasi dan edukasi adalah penyakit seksual menular, kehamilan di usia muda, hingga aborsi yang berakibat pada hilangnya nyawa remaja.

Nyatanya peran orangtua merupakan satu hal yang penting dalam edukasi seksual pada remaja. Apalagi saat ini masih belum banyak orang yang peduli terhadap risiko-risiko yang bisa menyerang remaja “salah pergaulan” tersebut. Mulai dari ancaman HIV/AIDS, angka kematian ibu yang meningkat karena melahirkan di usia muda, hingga kematian remaja perempuan karena nekat mengambil tindakan aborsi.

Mengapa Pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada Remaja Sangat Penting?

Pada dasarnya, remaja perlu memiliki pengetahuan seputar kesehatan reproduksi. Tak hanya untuk menjaga kesehatan dan fungsi organ tersebut, informasi yang benar terhadap pembahasan ini juga bisa menghindari remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Memiliki pengetahuan yang tepat terhadap proses reproduksi, serta cara menjaga kesehatannya, diharapkan mampu membuat remaja lebih bertanggung jawab. Terutama mengenai proses reproduksi, dan dapat berpikir ulang sebelum melakukan hal yang dapat merugikan.

Pengetahuan seputar masalah reproduksi tidak hanya wajib bagi remaja putri saja. Sebab, anak laki-laki juga harus mengetahui serta mengerti cara hidup dengan reproduksi yang sehat. Pergaulan yang salah juga pada akhirnya bisa memberi dampak merugikan pada remaja laki-laki pula. Lantas pengetahuan dasar apa saja yang perlu diketahui remaja?

  • Pengenalan terhadap sistem, proses, serta fungsi alat reproduksi. Usahakanlah untuk menyampaikan informasi sesuai dengan usia dan kesiapan anak. Tapi sebaiknya hindari penggunaan istila-istilah tertentu yang malah bisa mengaburkan makna dan membuat anak tidak mengenal dengan pasti masalah reproduksi.
  • Risiko penyakit. Aspek ini juga sebaiknya sudah mulai dikenalkan dan disampaikan pada remaja yang sudah beranjak dewasa. Dengan mengetahui risiko yang mungkin terjadi, remaja tentu akan lebih berhati-hati dan lebih menjaga kesehatan reproduksi.

Kekerasan seksual dan cara meghindarinya. Remaja perlu dikenalkan dengan hak-hak reproduksi yang ia miliki. Selain itu, diperlukan juga pengetahuan tentang kekerasana seksual yang mungkin terjadi, apa saja jenisnya, dan bagaimana cara mencegahnya terjadi.

sumber :https://dppkbpmd.bantulkab.go.id/kesehatan-reproduksi-remaja/

 Pemuda adalah tumpuan masa depan umat/bangsa yang kaya akan ide, imajinasi, kritik, saran yang membangun serta mempunyai peran di dalam peristiwa kehidupan, perubahan, dan dinamika sejarah dunia secara umum, serta Indonesia secara khusus. Berdasarkan hal tersebut, pemuda sering disebut sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial (agent of change and agent control social). Tidak bisa dipungkiri, banyak peran yang sudah dilakukan oleh pemuda. Di setiap tranformasi sosial dan pembangunan bangsa-negara Indonesia. Sejak pra-kemerdekaan (jaman penjajahan) hingga saat ini.

Kaum pemuda yang dimaksud adalah individu atau kelompok yang mempunyai kualitas yang baik. Kualitas tersebut terlihat atau tercermin dari akhlakul karimah yang baik, kualitas diri yang baik (kualitas intelektual), kualitas pendidikan (bukan formalitas tamatan) dan kualitas nilai-nilai keyakinan yang sesuai dengan fitrah manusia yang ia miliki. Karena sebagai ciptaan Tuhan yang diberi kelebihan dan kelemahan, kiranya kita terus meningkatkan kualitas-kualitas tersebut, khususnya nilai keimanan pada sang Maha Pencipta alam semesta, Allah SWT.

Dalam hal persiapan untuk mencapai kualitas-kualitas dirinya, pemuda harus mempunyai kesadaran akan betapa pentingnya peranan yang ia miliki di masa mendatang. Dalam literatur sejarah membuktikan, untuk meningkatkan kualitas pemuda, haruslah terlebih dahulu mendapatkan proses atau pun suatu pendidikan. Proses yang dimaksud di sini adalah suatu latihan pencapaian kualitas diri untuk persiapan yang akan datang. Pemuda yang berkualitas atau pemuda yang luar biasa tidak lahir dari proses yang biasa, pemuda yang berkualitas bisa dipastikan lahir dari proses yang luar biasa kualitasnya.

Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas dan mempunyai kemampuan dan juga idealisme, yang disebut Tan Malaka adalah satu-satunya kemewahan pemuda, harus terus bersinar dalam dirinya dan tercermin dari pikiran dan perbuatan. Hal itu seharusnya dapat dipegang teguh. Dan tidak sepantasnya tergadaikan untuk kepentingan pribadi dan juga kelompok. Pemuda harus mampu menjadi pemimpin di masa mendatang demi menjaga keseimbangan perkembangan zaman yang semakin kompleks atau ke arah zaman modern.

Menjadi pemimpin adalah salah satu tanggungjawab pemuda, siapa lagi yang akan menggantikan pemimpin yang akan datang kalau bukan pemuda saat ini? Siapa lagi yang akan membangun bangsa dan negara ini di masa mendatang kalau bukan pemuda-pemuda saat ini, baik laki-laki maupun prempuan? Oleh karena itu, pemuda harus dilatih atau melatih dirinya sendiri menjadi pemimpin atau pembangun bangsa dan negara Indonesia kedepannya. Harapannya adalah terlahirnya pemimpin yang berkualitas, yang dapat menjawab tantangan jaman, pemimpin yang lahir dari proses luar biasa dan bukan pemimpin yang lahir secara instan.

Menjadi Pemimpin yang Berkualitas

Selektifitas masyarakat untuk mencari/memilih pemimpin sangatlah ditekankan, demi tercapainya kepemimpinan yang tidak sewenang-wenang, berjalan lancar antara masyarakat dan pemimpin. Dalam hal ini masyarakat harus memperhatikan bagaimana kualitas calon pemimpin tersebut. Dr. Fuad Amsyari, di dalam bukunya yang berjudul “Masa Depan Umat Islam Indonesia”, mengatakan : setiap masyarakat di mana pun dan kapan pun, selalu memiliki pemimpin yang berperan amat sentral dalam mengarahkan gerek masyarakatnya, pemimpin tersebut juga akan menentukan prestasi yang akan dihasilkan oleh masyarakat tersebut. Oleh karena itu, pembahasan soal kepemimpinan sangat penting sekali dan seyogianya setiap warga negara memahami peran pemimpin dan fungsi pemimpin.

Dari penuturan di atas hendaknya ada persiapan yang matang untuk mencari atau menciptakan pemimpin berkualitas. Pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan umat atau bangsa dari pada kepentingan pribadi atau kepentingan golongan/kelompok. Rasulullah saw dan generasi-generasinya (Al-Khulafa ar-Rasyidin) sudah membuktikan hal tersebut, dan seharusnya konsep-konsep kepemimpinan Rasulullah diterapkan dan dipakai bagi pemimpin yang akan datang.

Pemimpin yang berkualitas, harus mengetahui fungsi pemimpin dalam suatu sistem sosial. Seorang pemimpin harus mampu menjadi motivator, inovator, aspirator dan komunikator. Jika kita melihat khazanah tradisi Jawa yang dikenal dengan Hasta Brata, di dalamnya berisi delapan karakter utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sejati/berkualitas.

Karakter tersebut yaitu : 1. Seorang pemimpin mempunyai watak seperti matahari, seorang pemimpin harus bisa memberi semangat dan kekuatan bagi masyarakat, 2. Harus memiliki watak seperti bulan, pemimpin harus tampil dengan segenap rasa cinta dan kesenangan terhadap masyarakatnya, 3. Harus memiliki watak seperti bintang, pemimpin harus memberi pedoman kepada setiap orang yang dipimpinnya, 4. Harus memiliki watak bagaikan samudera, pemimpin harus mempunyai pandangan dan wawasan yang sangat luas, mendalam dan jauh kedepan (visoner), 5. Harus memiliki watak seperti angin, pemimpin harus mampu berlaku adil, 6. Harus berwatak seperti api, pemimpin harus mempunyai ketegasan dan kekuatan untuk melindungi yang dipimpinnya, 7. Harus memiliki watak seperti air, pemimpin harus berwibawa dan setiap saat harus bermanfaat bagi bagi orang banyak, 8. Harus memiliki watak seperti tanah, hal ini merupakan simbol kesabaran. Pemimpin harus mempunyai rasa kesabaran yang tinggi, pemimpin harus bersahaja, suci dan sentosa.

Untuk mengukur karakter pemimpin tidaklah cukup hanya dengan hal-hal diatas, banyak hal yang harus diperhatikan dari seorang pemimpin, termasuk nilai-nilai keyakinannya, karena hal ini sangat menentukan dalam proses kehidupannya dan jalannya kepemimpinan. Karena nilai-nilai keyakinan merupakan suatu kebenaran yang mutlak dan sesuai dengan fitrah manusia.

Cikal bakal pemimpin yang berkualitas ini, yang akan menjadi panutan masyarakat telah lama diidam-idamkan oleh masyarakat. Pemimpin yang berkualitas telah memenuhi syarat belumlah terwujud setelah era reformasi berlangsung hingga sampai saat ini. Kerena langkah untuk menemukan atau mencetak seorang pemimpin yang berkualitas tidaklah sederhana.

Sangat disayangkan pada saat ini, pemimpin yang berkualitas, jujur dan peduli terhadap sekitarnya (baca: masyarakat) sudah berkurang. Beberapa contoh yang sering kita lihat di media. Tak sedikit pemimpin-pemimpin yang terjerat dengan berbagai macam kasus, mulai dari kasus korupsi, perselingkuhan, da beberapa kasus lainnya. Pemimpin, pada saat ini  tak sedikit yang terlahir secara instan. Hal ini karena demokrasi yang terbuka, yang lebih melekatkan diri pada partai kekerabatan, partai kekeluargaan, loby-loby partai, politik uang (money politic). Sungguh keadaan akan semakin buruk jika masyarakat dan pemuda tidak memperhatikan keadaan semacam ini.

Memanfaatkan Keadaan Demografi

Yang dimaksud dengan memanfaatkan keadaan demografi disini adalah dimana jumlah produktif umur 15-64 tahun akan lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan jumlah penduduk muda, di bawah 15 tahun dan lanjut usia 65 tahun ke atas. Keadaan demografi ini akan terjadi pada tahun 2020-2030. Keadaan demografi ini memberi peluang terjadinya pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan tertinggi dan penurunan angka kemiskinan.

Dari keadaan ini pemuda bisa memanfaatkan momentum keadaan demografi yang datang, Jika keadaan ini dapat terorganisir dengan benar, maka negara Indonesia mencapai puncak kemajuannya, dan itu ada ditangan para pemuda.

Negara Indonesia saat ini mempunyai ± 62,25 juta jiwa pemuda, artinya 25 % atau 1 dari 4 orang penduduk Indonesia adalah pemuda. Dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, dikatakan pemuda apabila berusia 18-40 tahun. Dari jumlah data tersebut, pemuda harus mempersiapkan diri dan menempatkan keuntungan keadaan demografi sehingga pemuda dapat mengambil alih dan juga memiliki peranan penting untuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bahkan APEC nantinya, agar Indonesia dapat bersaing di abad 21 yang penuh dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

sumber : lpmarena.com