Rabu, 29 Februari 2012


Hikamah dari Sopir Angkot
                Di UNDIP angkot kuning adalah satu – satunya angkutan umum yang masuk sampai kedepan setiap Fakultas  di UNDIP. Seperti kebanyakan peragai sopir angkot ada sebagian besar yang tidak disukai oleh penumpang. Tapi itu sudah menjadi pemakluman khalayak umum.  Bahwa untuk menjadi seorang sopir angkot harus bersikap seperti itu. Harus tegas kalo tidak tegas penumpang akan seenaknya sendiri juga.
Tetapi berbeda dengan bapak yang satu ini. dari wajahnya memancarkan ketenangan dan keteduhan. Bibirnya selalu menyunggingkan senyuman tanda hormat sama penumpang. Tak pernah wajah itu murung meski hati entah yang dirasa. Tutur bahasa yang lembut selalu menyapa penumpang.
Tak heran ketika ada kegiatan mahasiswa rombongan transportasinya selalu menyewa angkotnya bapaknya. Tanpa promosi jasa nagkotpun bapaknya tenar dikalangan mahasiswa akan kebaikannya dan kelembutannya dalam melayani penumpang.
                Suatu saat sudah beberapa minggu bapak ini tak pernah keliahatan lagi menyopir angkot. Dalam benakku apakah bapaknnya sudah berhenti bekerja, atau sedang ada pekerjaan lain? Nomor Hpnya pun susah dihubungi, jangan – jangan bapaknya sudah bosan dicarter sama mahasiswa karena ketidakseimbangan biaya yang diberi sama  tenaga sopirnya. Begitu banyak tuduhan yang saya capkan pada bapak ini dalam benakku. Alhamdulillah. Tuduhan – tuduhan dalam hatiku itu karena saking menyayangkan bapaknya semata. Susahnya menemui pribadi yang sederhana, santun, hormat sama mahasiswa meski lebih muda, sosok yang penuh dengan semangat dan senyuman.
                Dalam perjalanan saya manfaatkan untuk mengintrogasi bapak angkot ini.
“ Bapak ada kesibukan apa pak kok akhir akhir ini jarang kelihatan nyopir lagi pak?” Sergapku.
“ Ini mbak, kemaren kan habis kena tilang, jadi harus mengurus semua surat – surat.” Jelas bapaknya.
“Lho kok  bisa, gimana ceritanya pak?” tanggapku sambil memendam kekagetan. Ternyata salah besar tuduhanku selama ini.
“ Kemarin tu dompet saya hilang mbak, jatuh, padahal isinya surat – surat semua. Trus kemarin jalan dibelakang polisi, polisinya tu belok, entah karena tempatnya gak cukup mundur lagi menabrak saya mbak, malah saya yanng disalahkan , karena saya tidak bisa menunjukkan surat – surat akhirnya ya kesempatan polisinya menyalahkan saya mbak.” Cerita bapak angkot.
“Wah itu sudah tidak adil pak. Masak gitu, mentang – mentang dia polisi itu pak.” Akupun ikut geram bercampur kasihan sama bapaknya.
“lha mbak gak salah aja polisi itu sekarang suka malak kok mbak. Kalo ada polisi tu mbak, saya kan langsung menunnjukkan surat – surat, polisinya terang – terangan mbak kalo yang diminta bukan surat tapi duit mbak.” Sambil memperagakan menghitung duit.
“ walah penegak hukum kok malah melanggar hukum to, jaman memang sudah terbalik. Siapa yang akan menegakkan hukum kalo penegaknya aja sudah roboh.”  Gerutuku tak habis pikir.
“ ya begitulah mbak, apalagi kalo mau lebaran wah itu kesematan mencari uang saku lebaran mbak.”
Itulah sedikit gambaran keadaan hukum di Indonesia yang sudah porak poranda.
                Satu yang perlu kita tiru dari bapak ini dalam menghadapi segala sesuatu beliau selalu menyunggingkan senyum. Meski itu adalah halyang kecil namun efeknya sungguh luar biasa terhadap orang yang melihatnya. Meski hal yang sangat kecil kadang kita susah untuk menjadikan itu perilaku kita. Lebih sering kita terbawa suasana dan mengikuti nafsu serta emosi.
                Jika kita lihat keseharian bapak ini, berangkat jam 5.00 pagi, rumahnya cukup jauh dari UNDIP. Setiap sholat dhuhur dan asar beliau selalu sholat berjamaah di Masjid Kampus UNDIP. Dalam mengendarai angkot tak ada kata rebutan penumpang. Bapak ini selalu mempersilahkan yang lain dulu. Kalau angkotnya disewa bapaknnya tidak mau menyebutkan nominal, terserah mau diberi berapa. Apalagi ngebut, bapak ini selalu mempersilahkan kendaraan dibelakangnya untuk mendahului. Sungguh karakter – karakter yang sedang dibutuhkan bangsa ini untuk mengembalikan jati diri bangsa. Citra bangsa sebagai bangsa yang santun yang mulai luntur terkikis keanarkian jaman.
                Seorang sopir angkot saja bisa bersikap dan mempunyai karakter mulia seperti ini. bagaimana dengan kita orang – orang yang terdidik. Orang – orang yang diberi amanah untuk mengemban masa depan bangsa.
                Menjadi orang pentig itu baik. Namun yang lebih penting adalah menjadi orang baik.


INSPIRASI HARI INI
Hari ini kami etoser semarang mengikuti pembinan bersama bersama pak Agus Sugito @ SSK. Pukul sepuluh kami mulai acara. Acara dipandu oleh Khu
snul etoser 2011 dan diringi gema surat cinta Allah yang di senandungkan oleh Ubedi. Kami memulai dengan suasana yang tenang. Banyak temen – temen yang belum datang saat itu. Dari aura wajah kami terpancar kegelisahan dan banyaknya beban. Semagat yang dulu menghampiri kini mulai menguap.
Sesaat setelah acara diserahkan kepada pembicara utama yaitu pak Agus Sugito, suasana berbalik 180 derajat. Kumandang takbir dengan penuh gairah membuncah ditengah tenangnya siang ini. Suara khas pak agus yang membahana menusuk hingga kesumsum tulang kami. Daya sentuh setiap kata yang beliau lontarkan sungguh membuat kami tersadar bahwa dunia telah melenakan.
Dibuka dengan seruan takbir kemudian diawali dengan dari kisah seorang sopir travel yang beliau temui saat perjalanan ke tempat pembinaan. Seorang sopir yang agak kurang sopan, sopir itu memberikan uang masuk tol dengan tangan kiri. Sebagai orang jawa ini adalah sesuatu yang tabu. Namun sungguh menggetarkan jiwa ketika tahu bahwa sopir itu ternyata hanya memiliki tangan kiri. Tangan kanannya telah  diambil oleh yang Kuasa. Menjadi pelajaran bagi kita semua, tak selayaknya kita mengeluh dan bermalas – malasan. Sopir yang hanya dikarunia satu tangan , beliau tidak lantas menyerah pada keadaan. Beliau tetap bersemangat menghadapi tantangan, lalu bagaimana dengan kita yang dianugerahi Alloh dengan kelengkapan jasad? Tak sepantasnya kita terpuruk pada kekurangan dan penderitaan, bahwasannya di luar sana banyak yang menderita lebih dari kita. Banyak yang lebih kurang dari kita. Bukalah mata untuk melihat dunia. Jangan terkungkung pada diri sendiri.
Etoser di biayai oleh Dompet Dhuafa bukan untuk bersenang – senang, bukan hanya untuk mengejar nilai, IP tiga koma sekian, bukan hanya untuk menjadi pembesar – pembesar kampus apalagi hanya untuk berleha – leha pada zona nyaman. Visi Dompet Dhuafa adalah jauh kedepan untuk menciptakan pemimpin Indonesia yang lebih baik. Bahwa Indonesia layak dipimpin oleh Etoser, bahwa etoser layak memimpin Indonesia. Pemimpin yang benar – benar mempunyai jiwa kepemimpinan yang sejak kini dibina dan ditumbuh kembangkan. Bukan hanya sekedar seorang pimpinan.
Seseorang adalah layak disebut sebagai Etoser, bahwa layak untuk menjadi pemimpin masa depan adalah mereka yang pantang menyerah, pantang putus asa, bukan keadaan yang membuat mereka berhenti namun dirinya yang membuat keadaan mengikuti langkahnya, mengikuti impiannnya. Etoser mempunyai  semangat yang menyala. Etoser mampu menyemangati diri saat sendiri, di saat malas menyerang, disaat kelelahan itu datang. Etoser adalah orang yang semnantiasa meng-inspirasi dunia.
Keikhlasan dalam berbuat itu menjadi pribadi seorang Etoser. Kesabaran yang  lebih membuat Etoser tahan banting. Sebagai seorang pemimpin, Etoser harus memiliki keikhlasan dan kesabaran yang lebih. Selalu berpikir logis dan tidak mudah dikalahkan. Itulah mengapa Etoser diangkat dari mutiara – mutiara yang berlatar belakang sulit. Ini akan mejadi karakter seorang pejuang. Dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang mampu merasakan penderitaan rakyat kecil sehingga kelak tidak akan menjadi pemimpin yang dholim.
Jika ditilik dari realita dan rasional orang biasa maka seorang Etoser dikatakan sebagai orang GILA. Orang  yang mengalahkan rasio, melampaui batas – batas kebiasaan. Semangat yang diatas rata – rata, kerja keras dan keyakinan  dosis tinggi membuat Etoser mampu mengalahkan rasio itu. Karena sudah terlanjur gila maka tetap pertahankan kegilaan itu. Sudah terlanjur banyak orang yang mencemooh, bukan hanya diri kita yang direndahkan bahkan orang tua kita yang juga mendapat imbas dari kegilaan ini, maka jawablah cemoohan ini dengan usaha keras, dengan prestasi, dan suguhkanlah kesuksesan. Bukan hanya dijawab dengan mulut. Jagalah kegilaan ini untuk menjadi pemicu dalam menggapai cita – cita. Menjadi cambuk untuk terus bergerak menggengam setiap impian.
Di etos tidak dibutuhkan orang – orang yang egois, orang – orang yang hanya peduli dengan diri sendiri. Meski ia memiliki kapasitas dan kapabilitas yang hebat namun jika yang dipikirkan hanyalah diri sendiri maka tak akan ada gunanya. Lebih baik menjadi etoser dengan prestasi yang biasa saja belum pernah keluar negeri namun memiliki kontribusi untuk umat, daripada menjadi seorang etoser yang pernah melalang buana kesegala penjuru dunia namun tidak memiliki kontribusi untuk umat. Etoser dipersiapkan untuk menjadi pemimpin umat yang dapat mengalahkan jiwa egoisnya bukan untuk berpikir diri sendiri saja.
Menjadi seorang etoser harus berbesar hati, tidak ada alasan untuk tidak berbagi. Inilah saatnya kita mengentaskan mutiara – mutiara yang masih terbalut lumpur. Tidak ada alasan kita berleha – leha dalam asrama sedangkan adik – adik menunggu informasi beasiswa yang kita bawa.
Pikirkan jikalau bangku kuliah ini hanya diisi oleh orang – orang yang punya duit, orang – orang yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri maka kelas 10 – 20 tahun lagi kepemimpinan bangsa ini akan dipegang oleh mereka, yang tidak mengerti akan sulitnya menjadi rakyat kecil. Mau jadi apa bangsa ini jika dipimpin oleh orang – orang yang hanya peduli dengan perut sendiri. Siapa yang akan memikirkan rakyat?.
Inilah saatnya kita bangkit dan berperan serta membangun bangsa, memperbaiki peradaban negara. Tidak ada waktu untuk berpangkku tangan.
Jika hari ini Etoser masih sibuk memikirkan diri sendiri, sungguh memalukan, tepatnya sungguh merugi. Saat yang lain sibuk memikirkan umat, berkontribusi untuk umat, malah ia hanya senang sebagai penonton saja. Perlu diketahui bahwa kesenangan sebagai penonton itu tidak lebih daripada kesenangan sebagai pemain.
Saat kita beralasan untuk berdiam yang ada bukanlah ketidakmampuan namun hanyalah ketidakberanian.
Hidup itu bukan dilihat dari  hasilnya namun proses yang sudah dilakukan. Hasil adalah bukan kewajiban kita namun kewajiban kita adalah berusaha dan terus berusaha. Sebuah keniscayaan dengan usaha keberhasilanpun akan diraih.
Tidurlah tidur anakku sayang
Tidurlah tidur dalam pelukan
Aku doakan kelak kau besar
Menjadi pejuangpembela islam
Tegarlah bagai batu karang
Hidup ini adalah perjuangan
Bersabarlah hadapi tantangan
Allahlah tujuan

Senin, 27 Februari 2012


Belajar Dari Jalanan
Pagi ini begitu cerah, mentari pagi dengan wajah berseri menyinari bumi, embun pagi dengan sigap segera menyingkir dari bumi, berbaik hati pada sang mentari untuk memberi kehang

Jumat, 24 Februari 2012

Saatnya Bangkit Berbagi Inspirasi....
mau Kuliah????
Bingung pilih kemana????
Pengen Beasiswa????
bingung cara nyarinya?????


temukan jawabannya di TOENAS JILID 2 

KRISIS KEPEMIMPINAN DI INDOSESIA
DPR adalah Dewan perwakilan rakyat. Para pemimpin yang berdiri atas nama rakyat. Suara yang dibawa adalah suara rakyat.  Menjadi seorang pemimpin sudah selayaknya bertanggungjawab atas rakyatnya. Pemimpin haruslah berani lapar sebelum rakyatnya dan kenyang setelah rakyatnya. Itulah hakikat pemimpin, ia menjadi pengayom, pelindung, pembela dan pelayan rakyatnya. Sejenak kita  berkaca pada wajah DPR Indonesia,  tak ada sifat kepemimpinan dalam diri mereka. Mereka hanyalah seorang pimpinan tanpa memiliki sifat pemimpin. Ia hanya mempunyai kekuasaan tanpa dibarengi dengan kemampuan untuk mengelola kekuasaan itu sesuai dengan jalannya. Akhirnya ia mengelola hanya utuk penuhi perut sendiri.
Mereka mengajukan diri sebagai DPR bermodalkan ketenaran mereka, semakin tenar ia semakin mudah untuk menjadi DPR, entah itu tenar keburukannya entah itu tenar kelicikannya. Dimana rasa malu mereka sembunyikan?? Diawal pencalonan sejuta janji diumbar, sejuta program rakyat didengungkan, namun setelah merasakan empuknya kursi DPR mereka terlena hingga tertidur saat rapat, tak hanya itu menghabiskan milyaran uang rakyat hanya untuk perbaiki WC, seberapa pentingnya WC DPR dibandingkan nyawa rakyat yang terancam mati karena kelaparan?? Apakah tidak malu pada tembok yang menyaksikan tingkah konyol mereka setiap hari?? Apa kontribusi mereka untuk menyejahterakan rakyat hingga mereka tega melahap nyawa rakyat jelata?? Besar manakah jasa mereka dibandingkan petani yang bercucuran keringat memenuhi kebutuhan pangan bangsa, mereka hanya duduk, membuat undang – undang yang mematikan rakyat pribumi, undang – undang yang membuncitkan perut mereka.
Siapa yang akan mengurusi nasib rakyat kecil?? Jika pemimpin yang mereka pilih perlahan menyingkirkan mereka. Rakyat tidak butuh pemimpin yang mempunyai sejuta janji tanpa realiti, rakyat tak butuh pemimpin yang terkenal bak artis papan atas namun hanya bermanis dimulut saja. Rakyat butuh pemimpin yang mampu memimpin bukan seorang pimpinan. Yang dapat mengerti kebutuhan mereka, mendengarkan keluhan dan memberi solusi, mengayomi layaknya seorang raja nan bijaksana, melindungi layaknya seorang bapak terhadap anaknya.
Untuk dapat menjadi seorang pemimpin sejati haruslah dapat menguasai diri sendiri, berbekal akan pondasi yang kuat yaitu mempunyai sifat jujur, disiplin, dan tidak egois.(Erie Sudewo: Character Building) Dengan mengalahkan nafsu dalam diri ia tidak akan mudah digiurkan oleh kepentingan pribadi. Ia akan jauh memikirkan rakyat.
Seorang pemimpin adalah yang lebih dari orang yang dipimpin, namun bukan lantas ia merasa lebih dan menganggap rendah orang yang dipimpin. Ia harus lebih sabar dari yang dipimpin. Ia harus lebih tahu daripada yang dipimpin. Ia harus lebih bijaksana dari yang dipimpin. Untuk menjadi orang yang lebih ini seseorang harus memiliki sifat unggulan diatas 3 sifat dasar, yaitu ikhlas, sabar, bersyukur, tanggung jawab, berkorban, perbaiki diri, dan sungguh – sungguh.(Erie Sudewo) Ikhas membuat seorang pemipin bekerja tanpa pamprih didunia, ia tak mengharapkan imbalan apa – apa keculia telah meniatkan karena Allah, bertanggung jawab senantiasa memenuhi kewajiban dan takut akan dimintai pertanggungjawabannya kelak atas kepemimpinannya. Sifat -  sifat ini lah yang jika dimiliki kemudian diaplikasikan akan melahirkan jiwa kepemimpinan.
Itulah pribadi yang yang menjadi bibit – bibit pemimpin masa depan. Namun belum cukup sampai disini untuk menjadi seorang pemimpin.  Bibit itu harus sudah tumbuh mengakar dengan kuat dalam hati kemudian melahirkan cabang – cabang karakter pemimpin sejati. Setidaknya ada sembilan sifat pemimpin yang harus terpenuhi sebelum mengenyam tahta tertinggi, yaitu adil dalam memberikan pelayanan kepada rakyat, adil tidak hanya dilitah dari kuantitasnya saja yang sama rata sama rasa, namun juga memperhatikan keterbutuhan dan kepentingan, arif, ksatria, rendah hati, sederhana, komunikatif dalam menyampaikan gagasan ataupun perintah, visioner dalam mencapai tujuan kesejahteraan rakyat, solutif menghadapi masalah yang ada dan inspiratif pada yang dipimpin, dapat menjadi teladan.(Erie Sudewo)
Memang susah untuk memilih pemimpin, berbanding terbalik dengan memilih pimpinan. Karena seseorang belum dapat diketahui kepemimpinannya sebelum ia menjadi pemimpin. Apalagi seorang pemimpin sejati ia adalah sosok yang rendah hati, ia tidak akan meminta amanah apalagi gila kedudukan.
Begitu pentingnya kedudukan pemimpin ini, maju mundurnya suatu pasukan ditentukan oleh pemimpinnnya. Seperti perumpamaan bahwa segerombolan singa  yang dipimpin oleh domba akan dapat dikalahkan oleh segerombolan domba yang dipimpin singa. Dan yang akan menjadi luar biasa lagi jika segerombolan singa yang dipimpin oleh singa. Sumber daya yang terbatas ditangan pemimpin sejati dapat diubah menjadi kekayaan dan kesejahtaraan yang melimpah. Namun sumberdaya yang melimpah ditangan pimpinan yang tidak berkarakter akan meninggalkan cerita kehancuran dilumbung padi sendiri.
Seperti yang diungkapkan oleh Erry Riyana Hardjapamekas (mantan ketua KPK) bahwa “ Karakter bangsa sangat tergantung pada keteladanan para pemimpin, yang sejatinya muncul secara alami, sering kali spontan, dan menghasilkan citra. Bukan merancang citra seolah spontan, seakan alami, namun tak asli.”
Inilah penyakit yang menggerogoti bangsa Indonesia tercinta ini. kepemimpinan yang ada penuh dengan imitasi. Kepura – puraan yang semakin tercium akal bulusnya. Bangsa yang besar rapuh karena pemiliknya sendiri. Betapa tidak bersyukurnya pejabat korup bangsa Indonesia ini. diberikan surga dunia yang segalanya ada di Indonesia, namun dengan serakah perut – perut tertentu melahapnya sendiri, bahkan melahap perut – perut kecil agar tidak meminta bagian.
Sosok pemimpin sejati yang memperjuangkan nasib rakyat sangat dirindukan di negeri yang sedang terkapar lemah ini. Pemimpin yang membawa misi rakyat, dipilih oleh rakyat karena kapasitas dan kapabilitasnya, bukan keahliannya bermain peran. Mngembalikan semua kebijakan untuk rakyat. Diambil dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selama ini jargon ini memang deras dikumandangkan namun baru sebatas manisnya lidah yang tak bertulang.
Rakyat tak butuh janji namun bukti. Rakyat tidak menerima alasan kelalaian namun laporan sejauh mana ia bertindak. Merdekalah Indonesia Raya dari segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan oleh bangsa itu sendiri. Untuk memperbaiki bangsa maka tidak cukup dari bawah, sisi rakyat saja, namun dari sisi pemimpin harus diperbaharui dan diperbaiki.
YAKIN BISA ......... PASTI BISA ......INDONESIA RAYA JAYA TUK SELAMANYA... 

Rabu, 08 Februari 2012

INGIN KULIAH????
MAU BEASISWA???
temukan CARAnya DISINI

jangan takut kuliah hanya karena tak ada lembaran uang..... BEASISWA telah menanti ANDA diujung jalan ...
KEEP SPIRIT....do the BEST to Get The BEST