Belajar Dari Jalanan
Pagi ini
begitu cerah, mentari pagi dengan wajah berseri menyinari bumi, embun pagi
dengan sigap segera menyingkir dari bumi, berbaik hati pada sang mentari untuk
memberi kehang
atan. Namun berbeda suasana dikamar kecil pojok asrama ini. tak
terjangkau hangatnya mentari, tak
tertembus sinarnya matahari. Gelap adanya, dikasur yang sudah tipis itu,
tergolek sesosok tubuh tinggi besar masih menikmati indahnya pulau kapuk
(baca:tidur). Sesaat kemudian menggeliat – geliat dan bangunlah ia, meski baru
bangun tidur ia dengan sigap menuju tumpukan baju kotor dan mencucinya,
“ Sil, ikut pelatihan menulis
gak?? Ikut yuk...pembicaranya keren lho..” tawar Nia.
“Gak mau ah, bayarnya mesti
mahal..” jawabku masih sambil mengucek baju kotor.
“ nggak kok, di pengumumannya gak
ada tulisannya bayar yo..” bujuk nia lagi.
“ ya nanti deh, pikir – pikir
dulu,,,”
Kulanjutkan
kerjaanku hingga 15 menit berlalu, huhf lumayan banyak cucianku hari ini, butuh
tenaga ekstra ne buat ngangkat keloteng. Tak
terasa pukul tujuh pun telah dilewati jarum jam, sekarang waktu
menunjukkan pukul 07.30.
“Gimana Ni, jadi ikut pelatihan
nulis??” tanyaku ke Nia sambil ngegodain dia.
“Emmm....gak tau ne, ikut yuk,
pengen banget Sil, tapi gak ada temennya.” Rengek Nia lagi.
“Aku gak ada Modem owg, gimana
mau ikut, kan syaratnya pake modem.” Kilahku.
“Itu si Alpi ada, dia kan mau pergi, mesti gak dipake.”
“Iya pake aja ne, aku mau ada
acara sampai dhuhur.” Tambah Alpi menguatkan Nia.
“Emm ya sudahlah, pake motor
siapa??” kuputuskan mengikuti ajakan Nia.
“ Gak tau ne, ikhwan juga gak
ada motor, Sisil ada referensi pinjam
motor gak?” jawab Nia
“Gak ada,” jawabku pendek.
“Apa kita datengi ikhwan aja,
trus kita pinjem??” saran Nia.
“ Ikhwan dipake semua yo,
motornya.” Jawabku.
Semenit, lima
menit, sepuluh menit berlalu hingga satu jam. Kami masih bingung mencari motor.
Ngobrol kesana – kemari sama ikhwan tanpa arah tujuan.
“ Ayolah, naek bus aja. Udah jam
segini, acara jam berapa berangkat jam berapa.” Saranku untuk tidak menyiakan
waktu.
“oh mau naik bus aja gak pa??”
jawab Nia.
“Udah lah kita efektifkan waktu,
yok cabut.” Sahutku agak ketus karena sudah bosan menunggu tanpa kepastian.
Akhirnya kita
berdua kejalan raya mencari bus, saat jarak kami tinggal 100 langkah ke jalan
raya, tiba – tiba busnya sudah lewat dengan kecepatan express.
“hah..Sil itu busnya,,,
bus...tunggu kami... busss” teriak Nia sambil berlari mengejar bus.
“Sudahlah toh itu bukan bus
terakhir. Kan Nia juga belum ambil uang to di ATM?” Hiburku dengan nada datar.
“oh iya ya, tapi kan....”
“ sudah lah, sana ambil uang
dulu.” Pintaku.
Tak lama
kemudian setelah Nia mengambil uang, bus yang kami tunggupun tiba. Masih sepi
penumpang. Hanya ada 4 kursi yang terisi termasuk kami. Saat sampai di tanjakan
ada rombongan sepeda gunung. Wahhh keren... tiba – tiba kejailan pun terjadi.
Bapak bersepeda jalan terlalu kekanan, busnya pun tak mau kalah, dengan
badannya yang besar, pak sopir sengaja menyenggol bapak bersepeda biar agak
minggir kekiri. Seketika bapak sepeda mengeluarkan kata – kata umpatan.
Awalnya masi
tenang semua, seperti tidak terjadi apa –apa. Sesampai di turunan bapak sepeda
tiba – tiba nongol dijendela samping pak sopir dan meminta pertanggungjawaban.
Bus masih berjalan dengan santainya. Setelah sampai dikemacetan. Rombongan
sepeda menghadang bus dan merangsek masuk dalam bus. Kami para penumpang panik,
entah diapakan itu bapk sopir, yang terdengan hnaya permintaan maaf pak sopir
dan ketidak terimaan bapak sepeda. Karena tujuan kami sudah dekat. Kami
langsung turun dan mengalah untuk jalan kaki sedikit.
Luar biasa moral para penghuni bangsa. Tidak
ada yang mau mengalah, semua merasa benar. Semua mau mendapatkan haknya masing
– masing kalau bisa lebih, namun tidak ada yang mau memikirkan hak orang lain.
Padahal batasan hak pribadi adalah hak orang lain.
Kekerasan
hati yang tidak mau melihat pada diri sendiri. Mata cendurung tertuju pada
kejelekan orang lain. Kegersangan hati yang membuat tindakan – tindakan yang
merugikan orang lain. Ketidakmampuan merasai setiap masalah dengan kaca mata
yang bersih. Emosi yang meledak – ledak mengikuti nafsu. Membuat mata hati
mengalami penurunan fungsi.
Sebenarnya
itu adalah masalah yang sepele. Jika saja sepeda berjalan disebelah kiri, tanpa
ingin menghalangi bus, semua akan baik – baik saja. Kalau saja bus mau
memaklumi sepeda yang agak kekanan. Semua akan terasa tenang. Ke instan an
menghadapi masalah, membuat kekerasan menjadi alat pertama.
Inilah
krisis moral bangsa yang butuh penanganan serius. Hanya dengan ketenangan dan
kebersihan hatilah masalah akan menjadi sebuah peluang. Hambatan akan menjadi
tantangan. Kerisauan akan mudah dihalau untuk tidak menghinggapi hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar