Senin, 27 Februari 2012


Belajar Dari Jalanan
Pagi ini begitu cerah, mentari pagi dengan wajah berseri menyinari bumi, embun pagi dengan sigap segera menyingkir dari bumi, berbaik hati pada sang mentari untuk memberi kehang
atan. Namun berbeda suasana dikamar kecil pojok asrama ini. tak terjangkau  hangatnya mentari, tak tertembus sinarnya matahari. Gelap adanya, dikasur yang sudah tipis itu, tergolek sesosok tubuh tinggi besar masih menikmati indahnya pulau kapuk (baca:tidur). Sesaat kemudian menggeliat – geliat dan bangunlah ia, meski baru bangun tidur ia dengan sigap menuju tumpukan baju kotor dan mencucinya,
“ Sil, ikut pelatihan menulis gak?? Ikut yuk...pembicaranya keren lho..” tawar Nia.
“Gak mau ah, bayarnya mesti mahal..” jawabku masih sambil mengucek baju kotor.
“ nggak kok, di pengumumannya gak ada tulisannya bayar yo..” bujuk nia lagi.
“ ya nanti deh, pikir – pikir dulu,,,”
Kulanjutkan kerjaanku hingga 15 menit berlalu, huhf lumayan banyak cucianku hari ini, butuh tenaga ekstra ne buat ngangkat keloteng. Tak  terasa pukul tujuh pun telah dilewati jarum jam, sekarang waktu menunjukkan pukul 07.30.
“Gimana Ni, jadi ikut pelatihan nulis??” tanyaku ke Nia sambil ngegodain dia.
“Emmm....gak tau ne, ikut yuk, pengen banget Sil, tapi gak ada temennya.” Rengek Nia lagi.
“Aku gak ada Modem owg, gimana mau ikut, kan syaratnya pake modem.” Kilahku.
“Itu si Alpi ada, dia kan mau pergi, mesti gak dipake.”
“Iya pake aja ne, aku mau ada acara sampai dhuhur.” Tambah Alpi menguatkan Nia.
“Emm ya sudahlah, pake motor siapa??” kuputuskan mengikuti ajakan Nia.
“ Gak tau ne, ikhwan juga gak ada  motor, Sisil ada referensi pinjam motor gak?” jawab Nia
“Gak ada,” jawabku pendek.
“Apa kita datengi ikhwan aja, trus kita pinjem??” saran Nia.
“ Ikhwan dipake semua yo, motornya.” Jawabku.
Semenit, lima menit, sepuluh menit berlalu hingga satu jam. Kami masih bingung mencari motor. Ngobrol kesana – kemari sama ikhwan tanpa arah tujuan.
“ Ayolah, naek bus aja. Udah jam segini, acara jam berapa berangkat jam berapa.” Saranku untuk tidak menyiakan waktu.
“oh mau naik bus aja gak pa??” jawab Nia.
“Udah lah kita efektifkan waktu, yok cabut.” Sahutku agak ketus karena sudah bosan menunggu tanpa kepastian.
Akhirnya kita berdua kejalan raya mencari bus, saat jarak kami tinggal 100 langkah ke jalan raya, tiba – tiba busnya sudah lewat dengan kecepatan express.
“hah..Sil itu busnya,,, bus...tunggu kami... busss” teriak Nia sambil berlari mengejar bus.
“Sudahlah toh itu bukan bus terakhir. Kan Nia juga belum ambil uang to di ATM?” Hiburku dengan nada datar.
“oh iya ya, tapi kan....”
“ sudah lah, sana ambil uang dulu.” Pintaku.
Tak lama kemudian setelah Nia mengambil uang, bus yang kami tunggupun tiba. Masih sepi penumpang. Hanya ada 4 kursi yang terisi termasuk kami. Saat sampai di tanjakan ada rombongan sepeda gunung. Wahhh keren... tiba – tiba kejailan pun terjadi. Bapak bersepeda jalan terlalu kekanan, busnya pun tak mau kalah, dengan badannya yang besar, pak sopir sengaja menyenggol bapak bersepeda biar agak minggir kekiri. Seketika bapak sepeda mengeluarkan kata – kata umpatan.
Awalnya masi tenang semua, seperti tidak terjadi apa –apa. Sesampai di turunan bapak sepeda tiba – tiba nongol dijendela samping pak sopir dan meminta pertanggungjawaban. Bus masih berjalan dengan santainya. Setelah sampai dikemacetan. Rombongan sepeda menghadang bus dan merangsek masuk dalam bus. Kami para penumpang panik, entah diapakan itu bapk sopir, yang terdengan hnaya permintaan maaf pak sopir dan ketidak terimaan bapak sepeda. Karena tujuan kami sudah dekat. Kami langsung turun dan mengalah untuk jalan kaki sedikit.
 Luar biasa moral para penghuni bangsa. Tidak ada yang mau mengalah, semua merasa benar. Semua mau mendapatkan haknya masing – masing kalau bisa lebih, namun tidak ada yang mau memikirkan hak orang lain. Padahal batasan hak pribadi adalah hak orang lain.
                Kekerasan hati yang tidak mau melihat pada diri sendiri. Mata cendurung tertuju pada kejelekan orang lain. Kegersangan hati yang membuat tindakan – tindakan yang merugikan orang lain. Ketidakmampuan merasai setiap masalah dengan kaca mata yang bersih. Emosi yang meledak – ledak mengikuti nafsu. Membuat mata hati mengalami penurunan fungsi.
                Sebenarnya itu adalah masalah yang sepele. Jika saja sepeda berjalan disebelah kiri, tanpa ingin menghalangi bus, semua akan baik – baik saja. Kalau saja bus mau memaklumi sepeda yang agak kekanan. Semua akan terasa tenang. Ke instan an menghadapi masalah, membuat kekerasan menjadi alat pertama.
                Inilah krisis moral bangsa yang butuh penanganan serius. Hanya dengan ketenangan dan kebersihan hatilah masalah akan menjadi sebuah peluang. Hambatan akan menjadi tantangan. Kerisauan akan mudah dihalau untuk tidak menghinggapi hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar