Hikamah dari Sopir
Angkot
Di
UNDIP angkot kuning adalah satu – satunya angkutan umum yang masuk sampai
kedepan setiap Fakultas di UNDIP.
Seperti kebanyakan peragai sopir angkot ada sebagian besar yang tidak disukai
oleh penumpang. Tapi itu sudah menjadi pemakluman khalayak umum. Bahwa untuk menjadi seorang sopir angkot
harus bersikap seperti itu. Harus tegas kalo tidak tegas penumpang akan
seenaknya sendiri juga.
Tetapi berbeda
dengan bapak yang satu ini. dari wajahnya memancarkan ketenangan dan keteduhan.
Bibirnya selalu menyunggingkan senyuman tanda hormat sama penumpang. Tak pernah
wajah itu murung meski hati entah yang dirasa. Tutur bahasa yang lembut selalu
menyapa penumpang.
Tak heran
ketika ada kegiatan mahasiswa rombongan transportasinya selalu menyewa
angkotnya bapaknya. Tanpa promosi jasa nagkotpun bapaknya tenar dikalangan
mahasiswa akan kebaikannya dan kelembutannya dalam melayani penumpang.
Suatu
saat sudah beberapa minggu bapak ini tak pernah keliahatan lagi menyopir
angkot. Dalam benakku apakah bapaknnya sudah berhenti bekerja, atau sedang ada
pekerjaan lain? Nomor Hpnya pun susah dihubungi, jangan – jangan bapaknya sudah
bosan dicarter sama mahasiswa karena ketidakseimbangan biaya yang diberi
sama tenaga sopirnya. Begitu banyak
tuduhan yang saya capkan pada bapak ini dalam benakku. Alhamdulillah. Tuduhan –
tuduhan dalam hatiku itu karena saking menyayangkan bapaknya semata. Susahnya
menemui pribadi yang sederhana, santun, hormat sama mahasiswa meski lebih muda,
sosok yang penuh dengan semangat dan senyuman.
Dalam
perjalanan saya manfaatkan untuk mengintrogasi bapak angkot ini.
“ Bapak ada kesibukan apa pak kok
akhir akhir ini jarang kelihatan nyopir lagi pak?” Sergapku.
“ Ini mbak, kemaren kan habis
kena tilang, jadi harus mengurus semua surat – surat.” Jelas bapaknya.
“Lho kok bisa, gimana ceritanya pak?” tanggapku sambil
memendam kekagetan. Ternyata salah besar tuduhanku selama ini.
“ Kemarin tu dompet saya hilang
mbak, jatuh, padahal isinya surat – surat semua. Trus kemarin jalan dibelakang
polisi, polisinya tu belok, entah karena tempatnya gak cukup mundur lagi
menabrak saya mbak, malah saya yanng disalahkan , karena saya tidak bisa
menunjukkan surat – surat akhirnya ya kesempatan polisinya menyalahkan saya
mbak.” Cerita bapak angkot.
“Wah itu sudah tidak adil pak.
Masak gitu, mentang – mentang dia polisi itu pak.” Akupun ikut geram bercampur
kasihan sama bapaknya.
“lha mbak gak salah aja polisi
itu sekarang suka malak kok mbak. Kalo ada polisi tu mbak, saya kan langsung
menunnjukkan surat – surat, polisinya terang – terangan mbak kalo yang diminta
bukan surat tapi duit mbak.” Sambil memperagakan menghitung duit.
“ walah penegak hukum kok malah
melanggar hukum to, jaman memang sudah terbalik. Siapa yang akan menegakkan
hukum kalo penegaknya aja sudah roboh.”
Gerutuku tak habis pikir.
“ ya begitulah mbak, apalagi kalo
mau lebaran wah itu kesematan mencari uang saku lebaran mbak.”
Itulah sedikit gambaran keadaan
hukum di Indonesia yang sudah porak poranda.
Satu
yang perlu kita tiru dari bapak ini dalam menghadapi segala sesuatu beliau
selalu menyunggingkan senyum. Meski itu adalah halyang kecil namun efeknya
sungguh luar biasa terhadap orang yang melihatnya. Meski hal yang sangat kecil
kadang kita susah untuk menjadikan itu perilaku kita. Lebih sering kita terbawa
suasana dan mengikuti nafsu serta emosi.
Jika
kita lihat keseharian bapak ini, berangkat jam 5.00 pagi, rumahnya cukup jauh
dari UNDIP. Setiap sholat dhuhur dan asar beliau selalu sholat berjamaah di
Masjid Kampus UNDIP. Dalam mengendarai angkot tak ada kata rebutan penumpang.
Bapak ini selalu mempersilahkan yang lain dulu. Kalau angkotnya disewa
bapaknnya tidak mau menyebutkan nominal, terserah mau diberi berapa. Apalagi
ngebut, bapak ini selalu mempersilahkan kendaraan dibelakangnya untuk
mendahului. Sungguh karakter – karakter yang sedang dibutuhkan bangsa ini untuk
mengembalikan jati diri bangsa. Citra bangsa sebagai bangsa yang santun yang
mulai luntur terkikis keanarkian jaman.
Seorang
sopir angkot saja bisa bersikap dan mempunyai karakter mulia seperti ini.
bagaimana dengan kita orang – orang yang terdidik. Orang – orang yang diberi
amanah untuk mengemban masa depan bangsa.
Menjadi
orang pentig itu baik. Namun yang lebih penting adalah menjadi orang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar