Kamis, 19 April 2012


Agar Diri Menjadi Berkah (Kenapa harus menjadi mentor )

Assalmu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Menjadi orang yang mendapatkan keberkahan, tentulah menjadi cita-cita setiap orang. Kita sering mendapatkan kata berkah disandinkan dengan sesuatu hal yang bersifat agung dan bermanfaat. Barakah secara bahasa berarti kebaikan yang banyak dan tetap. Sedangkan menurut syariat berarti kebaikan yang banyak diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada siapa yang dikehendaki. Lalu bagaimana menjadi manusi yang mubarak ? dan apa kaitannya dengan menjadi murabbi/mentor ? Berikut saya ambil kutipan surat dari Ibnu Qayyim kepada Ala Al-Din, saudaranya.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اللهُ اَلْمَسْؤُوْلُ اَلْمَرْجُوُّ اْلإِجَابَةِ أَنْ يُحْسِنَ إِلَى اْلأَخِ عَلاَءِ الدِّيْنِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَيَنْفَعَ بِهِ، وَيَجْعَلَهُ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كَانَ، فَإِنَّ بَرَكَةَ الرَّجُلِ : تَعْلِيْمُهُ لِلْخَيْرِ حَيْثُ حَلَّ، وَنُصْحُهُ لِكُلِّ مَنْ اِجْتَمَعَ بِهِ. قَالَ تَعَالَى إِخْبَارًا عَنِ الْمَسِيْح أَيْ :
- مُعَلِّمًا لِلْخَيْرِ
- دَاعِيًا إِلَى اللهِ
- مُذَكِّرًا بِهِ
 مُرَغِّبًا فِيْ طَاعَتِهِفَهَذَا مِنْ بَرَكَةِ الرَّجُلِ، وَمَنْ خَلاَ مِنْ هَذَا، فَقَدْ خَلاَ مِنَ الْبَرَكَةِ، وَمُحِقَتْ بَرَكَةُ بَقَائِهِ وَالاِجْتِمَاعِ بِهِ، بَلْ تُمْحَقُ بَرَكَةُ مَنْ- لَقِيَهُ وَاجْتَمَعَ بِهِ، فَإِنَّهُ يُضَيِّعُ الْوَقْتَ فِي الْمَاجِرِيَّاتِ، وَيُفْسِدُ الْقَلْبَ، وَكُلُ آفَةٍ تَدْخُلُ عَلَى الْعَبْدِ فَسَبَبُهَا ضَيَاعُ الْوَقْتِ، وَفَسَادُ الْقَلْبِ، وَتَعُوْدُ بِضَيَاعِ حَظِّهِ مِنَ اللهِ وَنُقْصَانِ دَرَجَتِهِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَهُ، وَلِهَذَا وَصَّى بَعْضُ الشُيُوْخِ فَقَالَ : اِحْذَرُوْا مُخَالَطَةَ مَنْ تُضَيِّعُ مُخَالَطَتُهُ اَلْوَقْتَ، وَتُفْسِدُ الْقَلْبَ، فَإِنَّهُ مَتَى ضَاعَ الْوَقْتُ، وَفَسَدَ الْقَلْبُ اِنْفَرَطَتْ عَلَى الْعَبْدِ أُمُوْرُهُ كُلُّهَا، وَكَانَ مِمَّنْ قَالَ اللهُ فِيْهِوَمَنْ تَأَمَّلَ حَالَ هَذَا الْخَلْقَ وَجَدَهُمْ كُلَّهُمْ – إِلاَّ أَقَلَّ الْقَلِيْلِ – مِمَّنْ غَفَلَتْ قُلُوْبُهُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَاتَّبَعُوْا أَهْوَاءَهُمْ، وَصَارَتْ أُمُوْرُهُمْ وَمَصَالِحُهُمْ فُرُطًا، أَيْ فَرَطُوْا فِيْمَا يَنْفَعُهُمْ، بَلْ يَعُوْدُ بِضَرَرِهِمْ عَاجِلاً وَآجِلاً 

Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.
Allahlah Dzat tempat kita meminta Yang Diharap Keterkabulannya. Semoga Dia berbuat ihsan kepada al-akh ‘Ala’ al-Din di dunia dan akhirat, menjadikannya orang yang bermanfaat dan membawa keberkahan di mana pun ia berada. Sebab, keberkahan seseorang ada pada:
  • Pengajarannya terhadap segala macam kebajikan di mana pun ia berada, dan
  • Nasehat yang ia berikan kepada semua orang yang ijtima’ (berkumpul, rapat) dengannya.
Saat menceritakan tentang nabi ‘Isa ’alaihi al-salam, Allah subhanahu wa ta’ala- berfirman:
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada”. (Maryam: 31)
Nabi ‘Isa ‘alaihi al-salam menjadi manusia yang membawa berkah adalah karena ia:
  1. Menjadi guru kebajikan
  2. Juru dakwah yang menyeru manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala
  3. Mengingatkan manusia tentang Allâh subhanahu wa ta’ala
  4. Mendorong dan memotivasi manusia untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala
Inilah bagian dari keberkahan seseorang, siapa saja yang tidak memiliki hal ini, maka, ia telah kosong dari keberkahan, keberkahan eksistensi dan ijtima’ (berkumpul, rapat) dengannya telah dihapus, bahkan, keberkahan orang-orang yang liqa’ (bertemu) dan ijtima’ (berkumpul, rapat) dengannya juga dihapuskan, sebab, ia hanyalah:
  1. Membuang-buang waktu dalam kehidupan, dan
  2. Merusak hati.
Dan semua afat (bencana, problem, musykilah) yang datang kepada seorang manusia, penyebabnya adalah waktu yang tersia-sia dan hati yang rusak, dan keduanya merupakan akibat dari:
  1. Tersia-sianya “posisi” dia di sisi Allâh subhanahu wa ta’ala-, dan
  2. Turunnya tingkatan dan kedudukan dia di sisi Allâh subhanahu wa ta’ala
Oleh karena inilah, sebagian masyayikh berpesan:
“Waspadalah, jangan mukhalathah (berkumpul, bergaul) dengan seseorang yang menyebabkan waktu terbuang sia-sia dan menyebabkan hari rusak, sebab, jika waktu telah terbuang sia-sia, dan hati rusak, maka segala urusan manusia menjadi berantakan, dan ia termasuk dalam cakupan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Al-Kahfi: 28).
Dan siapa saja yang mencermati keadaan manusia di bumi ini, ia akan mendapati bahwa mereka – kecuali sangat-sangat sedikit – termasuk dalam kategori:
  1. Orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah subhanahu wa ta’ala-
  2. Orang-orang yang mengikuti hawa nafsu
Akibatnya, segala urusan dan kemaslahatan mereka menjadi tercerai berai, tidak membawa manfaat kepada mereka, bahkan madharatnya malah menimpa mereka, baik urusan di dunia maupun akhirat.



Dari kutipan panjang di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita catat untuk kehidupan dakwah kita sekarang ini, antara lain:

Seseorang dapat menjadi sumber keberkahan, manakala memiliki sifat dan karakter sebagai berikut:
          1.  Menjadi guru untuk segala macam kebaikan
          2.  Memberi nasihat kepada semua orang yang ia temui dan yang berkumpul dengannya
          3.  Menjadi juru dakwah yang mengajak manusia untuk kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala
          4.  Menjadi pengingat manusia agar mereka tidak lalai
          5.  Memotivasi manusia untuk terus taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Wallahu'alam
*disadur dari taujih Musyafa Ahmad Rahim
http://bumiparajundi.blogspot.comhttp://bumiparajundi.blogspot.com

Minggu, 15 April 2012


DAFTAR ISI             
Pendahuluan
a.       Latar Belakang ........................................................................................             3
b.      Tujuan .....................................................................................................             3
Pembahasan
a.       Definisi Fertilitas ..........................................................................                       3
b.      Sumber Data Fertilitas serta Kelemahan dan Kelebihan .....................                3
c.       Indikator Fertilitas ........................................................................                       6
d.      Teori Fertilitas ..............................................................................                        6
e.       Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas ..............................................                    9
Daftar Pustaka ............................................................................................             11                                                                                                                                                                                 



PENDAHULUAN
a.       Latar belakang
Laju pertumbuhan penduduk erat kaitannya dengan perubahan dinamika penduduk. Perubahan dinamika penduduk dipengaruhi oleh tingkat fertilitas, mortalitas, morbiditas dan migrasi penduduk. Beberapa konponen struktur penduduk tesebut yang bisa berdampak kepada kehidupan masyarakat, baik secara ekonomi, sosial maupun politik.

b.      Tujuan
Dengan mengetahui bagaimana laju fertilitas pada penduduk, maka kita bisa mengetahhui langkah apa yang harus dilakukan untuk mengambil kebijakan terkait perubahan dinamika penduduk tersebut.

PEMBAHASAN
a.      Definisi Fertilitas
Fertilitas, dari bahasa Latin, adalah istilah kedokteran yang berarti adalah kadar kesuburan wanita. Yaitu peluang bisa tidaknya dan berapa banyaknya bisa mengandung dan mempunyai anak.
Kelahiran hidup sebagai peristiwa kelahiran bayi, tanpa memperhitungkan lamanya berada dalam kandungan, dimana si bayi menunjukkan tanda-tanda kehidupan pada saat dilahirkan; misalnya bernafas, ada denyut jantung, atau denyut tali pusat, atau gerakan-gerakan otot.  (WHO)

b.      Sumber Data Fertilitas serta Kelemahan dan Kelebihan
Pada dasarnya estimasi fertilitas --dan juga mortalitas-- dapat dilakukan memakai dua jenis data yaitu yang langsung berhubungan dengan peristiwa kelahiran (cara langsung,  direct method) dan yang secara tidak langsung berkaitan dengan kejadian kelahiran tetapi dengan teknik tertentu dapat dikonversikan menjadi ukuran fertiitas.
Estimasi langsung dapat dilakukan jika sistem registrasi vital dapat berjalan dengan baik; tidak saja secara administratif tetapi juga secara stattistik. Jika sistem registrasi berjalan dengan baik maka angka kelahira --dan juga kematian—dapat “langsung” dihitung dari data yang ada. Kita bisa menghitung berapa jumlah kelahiran selama kurun waktu tertentu dan membaginya dengan jumlah penduduk atau jumlah wanita pada kurun waktu yang sama (pertengahan tahun). Estimasi langsung sebenarnya juga dapat dihitung dari data sensus atau survei. Estimasi langsung melalui sensus atau survei dapat dilakukan dengan:
-          Menanyakan jumlah kelahiran selama jangka waktu tertentu
Dalam survei atau sensus diajukan pertanyaan tentang jumlah kelahiran selama jangka watu tertentu  --misalnya satu tahun sebelum pencacahan-- berikut tanggal dan bulan kelahirannya. Dengan diketahui jumlah dan tanggal kelahiran pada jangka waktu tertentu maka secara teoritis dapat diestimasi secara langsung angka kelahiran pada periode tersebut.
-          Mencatat riwayat kehamilan/kelahiran
Estimasi langsung juga dapat dilakukan jika sensus atau survei mampu memperoleh data tentang riwayat kehamilan/kelahiran responden secara tepat dan benar. Riwayat kehamilan/kelahiran dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang lengkap dan terinci dari semua kehamilan yang dialami oleh responden (wanita) sejak ia menikah hingga saat dilakukan wawancara (survei). Responden diminta untuk mengingat kembali semua kehamilan, kapan terjadinya, apakah berakhir dengan keguguran, lahir hidup atau lahir mati. Jika anak tersebut lahir hidup, apakah jenis kelaminnya, dan apakah anak tersebut masih hidup. Bila anak itu sudah meninggal, berapa umur ketika meninggal. Semua tanggal dicatat demi kelengkapan, sekaligus untuk memriksa konsisrensi jawaban.
-          Survei Multi Putaran (multiround survey)
Estimasi langsung dapat pula dilakukan dengan melakuan multiround survey dimana survei dilakukan beberapa kali (dua kali) untuk selang waktu tertentu. Selama selang waktu tersebut ditanyakan apakah ada perubahan dalam beberpa kejadian seperti kelahiran, kematian atau perpindahan. Kunjungan yang berulang pada rumah tangga sampel membuat kedua belah pihak, responden dan petugas saling mengenal sehingga memperlancar pengumpulan data.

Estimasi Tidak Langsung
-          Lemahnya Data Registrasi Penduduk
Di negara-negara yang sudah maju, khususnya di Eropah Barat, Jepang dan Amerika Serikat, sumber utama statistik vital adalah registrasi penduduk. Pelaksanaan registrasi penduduk di negara-negara tersebut diatur oleh undang-undang dan dilaksanakan oleh suatu instansi yang khusus melaksanakan registrasi dan ditunjang oleh biaya yang cukup. Pada umumnya kualitas data yang dihasilkan registrasi penduduk sangat baik dan memberikan gambaran kecenderungan untuk waktu yang panjang di masa lampau. Sebaliknya di negara-negara berkembang seperti Indonesia, sistem registrasi penduduk belum berjalan dengan baik. Penelitian yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik memperlihatkan bahwa kelahiran yang tercakup dalam registrasi hanya 58 persen, sedangkan kematian hanya 75 persen.
-          Keterbatasan Data Sensus atau Survei
Disebabkan oleh (a) lemahnya sistem registrasi vital, dan; (b) kelemahan sensus/survei dalam memperoleh data yang dapat langsung digunakan untuk mengestimasi  fertilitas maka diperlukan estimasi secara tidak langsung (indirect estimate).
Jenisnya:
-          Metode reverse (reverse survival)
-          Metode Anak Kandung (Own Children Method)
-          Metode Anak Lahir Hidup Terakhir (Last Live Birth)
-          Metode Anak Lahir Hidup Terakhir (Last Live Birth)
-          Metode Palmore
-          Metode Gunasekaran-Palmore
-          Indeks Coale
Data Untuk Estimasi Fertilitas Secara Tidak Langsung
Hasil survei atau sensus yang dilakukan BPS yang biasa dipakai untuk estimasi fertilitas adalah:
a) Susunan umur dan jenis kelamin penduduk
b) Jumlah anak yang pernah dilahirkan dan yang masih hidup oleh wanita yang pernah kawin menurut umur
c) Kelahiran anak terakhir menurut tahun kelahiran dan umur
d) Kelahiran selama kurun waktu tertentu sebelum survei
e) Data lain yang ada hubungannya dengan kelahiran seperti perkawinan, keluarga berencana dan lain-lain



c.       Indikator Fertilitas
1.      Angka Kelahiran Tahunan (current fertility)
a. Jumlah Kelahiran
b. Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate – CBR)
c. Angka Kelahiran Menurut Umur
(Age Spesific Fertility Rate - ASFR)
d. Angka fertilitas Total
(TFR)
2.      Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih Hidup (AMH)
a. Anak Lahir Hidup (ALH) atau Children Ever Born(CEB)
b. Anak Masih Hidup (AMH) atau Children Still Living (CSL)
c. Rasio Anak-Wanita atau Child Women Ratio (CWR).
3.      Paritas
4.      Keluarga Berencana
a.  Angka Prevalensi Pemakaian Kontrasepsi (CPR)
b. Angka tidak terpenuhinya kebutuhan KB (Unmet-need)

d.                  Teori Fertilitas
Teori Sosiologi tentang Fertilitas
Davis dan Blake: Variabel Antara Kajian tentang fertilitas pada dasarnya bermula dari disiplin sosiologi. Sebelum disiplin lain membahas secara sistematis tentang fertilitas, kajian sosiologis tentang fertilitas sudah lebih dahulu dimulai. Sudah amat lama kependudukan menjadi salah satu sub-bidang sosiologi. Sebagian besar analisa kependudukan (selain demografi formal) sesungguhnya merupakan analisis sosiologis.
Kingsley Davis dan Judith Blake melakukan analisis sosiologis tentang fertilitas. Davis and Blake mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas melalui apa yang disebut sebagai “variabel antara” (intermediate variables).   Menurut Davis dan Blake faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi fertilitas akan melalui “variabel antara”. Ada 11 variabel antara yang mempengaruhi fertilitas, yang masing-masing dikelompokkan dalam tiga tahap proses reproduksi sebagai berikut:
Intermediate variables of fertility Davis and Blake
I. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan kelamin (intercouse variables):
A. Faktor-faktor yang mengatur tidak terjadinya hubungan kelamin:
1. Umur mulai hubungan kelamin
2. Selibat permanen: proporsi wanita yang tidak pernah mengadakan hubungan kelamin
3. Lamanya masa reproduksi sesudah atau diantara masa hubangan kelamin:
    a. Bila kehidupan suami istri cerai atau pisah
    b. Bila kehidupan suami istri nerakhir karena suami meninggal dunia
B. Faktor-faktor yang mengatur terjadinya hubungan kelamin 
1. Abstinensi sukarela
2. Berpantang karena terpaksa (oleh impotensi, sakit, pisah sementara)
3. Frekuensi hubungan seksual
II. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konsepsi (conception variables):
1. Kesuburan atau kemandulan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak disengaja
2. Menggunakan atau tidak menggunakan metode kontrasepsi:
    a. Menggunakan cara-cara mekanik dan bahan-bahan kimia
    b. Menggunakan cara-cara lain
3. Kesuburan atau kemandulan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang disengaja (sterilisasi, subinsisi, obat-obatan dan sebagainya)
III. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan dan kelahiran (gestation variables)
1. Mortalitas janin yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak disengaja
2. Mortalitas janin oleh faktor-faktor yang disengaja

Ronald Freedman: Variabel Antara dan Norma Sosial
Menurut Freedman variabel antara yang mempengaruhi langsung terhadap fertilitas pada dasarnya juga dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku di suatu masyarakat. Pada akhirnya perilaku fertilitas seseorang dipengaruhi norma-norma yang ada yaitu norma tentang besarnya keluarga dan norma tentang variabel antara itu sendiri. Selanjutnya norma-norma tentang besarnya keluarga dan variabel antara di pengaruhi oleh tingkat mortalitas dan struktur sosial ekonomi yang ada di masyarakat.  
Menurut Freedman intermediate variables yang dikemukakan Davis-Blake  menjadi variabel antara yang menghubungkan antara “norma-norma fertilitas” yang sudah mapan diterima masyarakat dengan jumlah anak yang dimiliki (outcome). Iamengemukakan bahwa “norma fertilitas” yang sudah mapan diterima oleh masyarakat dapat sesuai dengan fertilitas yang dinginkan seseorang. Selain itu, norma sosial dianggap sebagai faktor yang dominan. Secara umum Freedman mengatakan bahwa:
“Salah satu prinsip dasar sosiologi adalah bahwa bila para anggota suatu  masyarakat menghadapi suatu masalah umum yang timbul berkali-kali dan membawa konsekuensi sosial yang penting, mereka cenderung menciptakan suatu  cara penyelesaian normatif terhadap masalah tersebut. Cara penyelesaian ini merupakan serangkaian aturan tentang bertingkah laku dalam suatu situasi tertentu, menjadi sebagian dari kebudayaannya dan masyarakat mengindoktrinasikan kepada para anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan norma tersebut baik melalui ganjaran (rewards) maupun hukuman (penalty) yang implisit dan eksplisit. Karena jumlah anak yang akan dimiliki oleh sepasang suami isteri itu merupakan masalah yang sangat universal dan penting bagi setiap masyarakat, maka akan terdapat suatu penyimpangan sosiologis apabila tidak diciptakan budaya penyelesaian yang normatif untu mengatasi masalah ini.

Teori Ekonomi tentang Fertilitas
                                                          
Pandangan bahwa faktor-faktor ekonomi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap fertilitas bukanlah suatu hal yang baru. Dasar pemikiran utama dari teori ‘transisi demografis’ yang sudah terkenal luas adalah bahwa sejalan dengan diadakannya pembangunan sosial-ekonomi, maka fertilitas lebih merupakan suatu proses ekonomis dari pada proses biologis. Berbagai metode pengendalian fertilitas seperti penundaan perkawinan, senggama terputus dan kontrasepsi dapat digunakan oleh pasangan suami  isteri yang tidak menginginkan mempunyai keluarga besar, dengan anggapan bahwa mempunyai banyak anak berarti memikul beban ekonomis dan menghambat peningkatan kesejahteraan sosial dan material.

Supply of children diartikan sebagai banyaknya anak yang bertahan hidup dari suatu pasangan jika mereka tidak berpisah/cerai pada suatu batas tertentu. Supply tergantung pada banyaknya kelahiran dan kesempatan untuk bertahan hidup. Supply of children berkaitan dengan konsep kelahiran alami (natural fertility). Menurut Bongart dan Menken fertilitas alami dapat diidentifikasi melalui lima hal utama, yaitu:
a.  Ketidak-suburan setelah melahirkan (postpartum infecundibality)
b.  Waktu menunggu untuk konsepsi (waiting time to conception)
c.  Kematian dalam kandungan (intraurine mortality)
d.  Sterilisasi permanen (permanent sterility)
e.  Memasuki masa reproduksi (entry into reproductive span

John C. Caldwell juga melakukan analisis fertilitas dengan pendekatan ekonomisosiologis. Tesis fundamentalnya adalah bahwa tingkah laku fertilitas dalam masyarakat pra-tradisional dan pasca-transisional itu dilihat dari segi ekonomi bersifat rasional dalam  kaitannya dengan tujuan ekonomi yang telah ditetapkan dalam masyarakat, dan dalam arti luas dipengaruhi juga oleh faktor-faktor biologis dan psikologis.  
Teori Caldwell menekankan pada pentingnya peranan keluarga dalam arus kekayaan netto (net wealth flows) antar generasi dan juga perbedaan yang tajam pada regim demografis pra-transisi dan pasca-transisi. Caldwell mengatakan bahwa “sifat hubungan ekonomi dalam keluarga” menentukan kestabilan atau ketidak-stabilan  penduduk. Jadi pendekatannya lebih menekankan pada dikenakannya tingkah laku fertilitas terhadap individu (atau keluarga inti) oleh suatu kelompok keluarga yang lebih besar (bahkan yang tidak sedaerah) dari pada oleh “norma-norma” yang sudah diterima masyarakat. Seperti diamati oleh Caldwell, didalam keluarga selalu terdapat tingkat eksploitasi yang besar oleh suatu kelompok (atau generasi) terhadap kelompok atau generasi lainnya, sehingga jarang dilakukan usaha pemaksimalan manfaat individu.

e.  Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas
1.http://www.thomsonfertility.com.sg/indo/images/spacer.gif
Usia wanita 
Salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi fertilitas adalah usia si perempuan (Gambar 1). Fertilitas cukup stabil hingga seorang perempuan mencapai usia 35 tahun. Sesudah itu, terjadi penurunan fertilitas secara bertahap. Saat menginjak usia 40 tahun, fertilitas menurun drastis. 

Oleh karena itu sangat penting bagi perempuan yang mendekati usia 35 tahun dan belum pernah hamil, untuk segera mencari perhatian medis. Hal tersebut menjadi mendesak bagi perempuan yang kian mendekati usia 40 tahun.
http://www.thomsonfertility.com.sg/indo/images/curve.jpg
2.
Lama waktu mencoba mengandung 
Kedua, begitu Anda memutuskan untuk mendapatakan keturunan, Anda akan mudah merasa cemas jika Anda tidak berhasil mendapatkan kehamilan setelah satu bulan mencoba. Tetapi fakta menunjukkan, secara normal, perempuan sehat (di bawah 30 tahun) yang melakukan hubungan badan secara teratur, hanya memiliki peluang gagal 20 hingga 40 persen selama siklus tertentu.

Jadi, apa yang “salah” pada 60 hingga 80 persen sisanya yang gagal? Sering kali, tidak ada alasan medis, dan penyebabnya biasanya adalah karena kualitas sperma atau sel telur terlalu jelek untuk mencapai fertilisasi, atau fertilisasi terjadi tetapi embrio tidak bisa bertahan hidup setelah beberapa hari.

Kenyataannya, menurut data National Center for Health Statistics, AS (Gambar 2), peluang Anda untuk hamil sebenarnya cukup besar jika Anda melihatnya dalam rentang waktu satu tahun hubungan badan tanpa pelindung. 
Usia Anda
Peluang Anda untuk
hamil setelah tahun pertama
Di bawah 25 tahun
96%
25 – 34
86%
35 – 44
78%
Gambar 2
3.
Masalah Medis 
Jangan menunda untuk mendapatkan bantuan medis karena usia merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan fertilitas. Berikut adalah beberapa hal yang akan membantu Anda menentukan kapan diperlukan nasehat/saran medis dengan segera: 
berusia lebih dari 35 tahun
tidak hamil/subur selama lebih dari 2 tahun
menstruasi yang tidak teratur
mengalami gangguan seksual
menjalani operasi abdominal (bagian perut) sebelumnya
lebih dari 6 siklus Clomiphene
lebih dari 4 siklus SO-AI
(Super Ovulation-Artifical Insemination [Super Ovulasi-Inseminasi Artifisial])

Apa Ea JuduL’a??  ^_^
Siang yang panas, begitu membakar kulit. Jalanan beraspal mengepulkan asap menambah kengiluan hati.  Sudut mata semakin menyempit, menutup ruang untuk cahaya yang terlalu ganas, seganas kehidupan ini. Tiba – tiba mata ini tersapu oleh pemandangan yang sebenarnya sudah tak  asing lagi sebenarnya, namun selalu saja menggeramkan hati, membakar amarah ini.
Anak – anak kecil yang dengan santainya mondar – mandir perempatan jalan, bermandikan teriknya mentari, mencemooh panasnya aspal dengan kaki mungilnya yang telanjang tanpa alas. Menghampiri setiap kendaraan untuk meminta sedikit hak mereka, hanya untuk sekedar bertahan hidup mengisi perut. Lambung yang smeula pedih mengiris – iris, sejenak penuh. Lapar yang mendera telah beralih menjadi milik mereka. Banyak banyak bayangan yang menggeliat di depan mata, saat dikampus sedikit rasa lapar menjadi alasan untuk berhenti berpikir, sedikit rasa lelah menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Merasa diri ini insan paling teraniaya.
Namun siapa kira. Disaat yang sama begitu banyak insan yang lebih menderita. Mata emang hanya ada dua, rasa manusia memang serakah. Namun jiwa manusia masih punya nurani. Mengapa mereka tidak malu? Mengapa mereka tidak mencari pekerjaan lain? Apa mereka tidak sekolah? Siapa yang salah?
Karena rasa malu mereka telah terjual oleh kerasnya kehidupan, karena mereka belum bisa melakukan pekerjaan lain. Karena mereka tak bisa sekolah, mereka disingkirkan oleh sekolah. Siapa yang salah? Mau menyalahkan siapa? Negara? Orang tua mereka? Dinas pendidikan? Sekolah yang tak mau menerima mereka?? Ini salah kita yang maish punya hati, salah kita yang masih bisa menikmati semua ini.
Sekolah – sekolah hanya ada orang punya duit, sekolah – sekolah menjadi milik pribadi yang kebijakannya disesuaikan kebutuhan pemiliknya. Sekolah diisi mereka yang tak pernah merasakan sempitnya hidup. Mereka yang tidak melihat hidup rakyat jelata. Lalu kemana mereka yang tak punya uang, kemana mereka yang tak mampu membeli bangku sekolah. Dari mana ilmu yang mereka butuhkan. Bagaimana nasib bangsa jika orang – orang terididiknya adalah mereka yang tak punya hati. Bagaimana mereka dapat memperjuangkan rakyat, tahu akan yang dirasakan oleh rakyat saja tidak.
Masih ada waktu untuk memperbaiki semua, kita yang masih punya hati, kita yang punya rasa iba terhadap nasib bangsa. Saatnya kita mengisi celah – celah kosong di tiang negara ini. Negara  butuh orang yang baik, butuh orang jujur yang cerdas. Siapa lagi yang akan mempedulikan mereka yang dibawah. Jika orang yang diatasterus memanjat keatas, tak mau mengulurkan tangan kebawah.
SALAM PERBAIKAN BANGSA..