Apa Ea JuduL’a?? ^_^
Siang yang
panas, begitu membakar kulit. Jalanan beraspal mengepulkan asap menambah
kengiluan hati. Sudut mata semakin
menyempit, menutup ruang untuk cahaya yang terlalu ganas, seganas kehidupan
ini. Tiba – tiba mata ini tersapu oleh pemandangan yang sebenarnya sudah tak asing lagi sebenarnya, namun selalu saja
menggeramkan hati, membakar amarah ini.
Anak – anak
kecil yang dengan santainya mondar – mandir perempatan jalan, bermandikan
teriknya mentari, mencemooh panasnya aspal dengan kaki mungilnya yang telanjang
tanpa alas. Menghampiri setiap kendaraan untuk meminta sedikit hak mereka,
hanya untuk sekedar bertahan hidup mengisi perut. Lambung yang smeula pedih
mengiris – iris, sejenak penuh. Lapar yang mendera telah beralih menjadi milik
mereka. Banyak banyak bayangan yang menggeliat di depan mata, saat dikampus
sedikit rasa lapar menjadi alasan untuk berhenti berpikir, sedikit rasa lelah
menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Merasa diri ini insan paling teraniaya.
Namun siapa
kira. Disaat yang sama begitu banyak insan yang lebih menderita. Mata emang
hanya ada dua, rasa manusia memang serakah. Namun jiwa manusia masih punya
nurani. Mengapa mereka tidak malu? Mengapa mereka tidak mencari pekerjaan lain?
Apa mereka tidak sekolah? Siapa yang salah?
Karena rasa
malu mereka telah terjual oleh kerasnya kehidupan, karena mereka belum bisa
melakukan pekerjaan lain. Karena mereka tak bisa sekolah, mereka disingkirkan
oleh sekolah. Siapa yang salah? Mau menyalahkan siapa? Negara? Orang tua
mereka? Dinas pendidikan? Sekolah yang tak mau menerima mereka?? Ini salah kita
yang maish punya hati, salah kita yang masih bisa menikmati semua ini.
Sekolah –
sekolah hanya ada orang punya duit, sekolah – sekolah menjadi milik pribadi
yang kebijakannya disesuaikan kebutuhan pemiliknya. Sekolah diisi mereka yang
tak pernah merasakan sempitnya hidup. Mereka yang tidak melihat hidup rakyat
jelata. Lalu kemana mereka yang tak punya uang, kemana mereka yang tak mampu
membeli bangku sekolah. Dari mana ilmu yang mereka butuhkan. Bagaimana nasib
bangsa jika orang – orang terididiknya adalah mereka yang tak punya hati.
Bagaimana mereka dapat memperjuangkan rakyat, tahu akan yang dirasakan oleh
rakyat saja tidak.
Masih ada
waktu untuk memperbaiki semua, kita yang masih punya hati, kita yang punya rasa
iba terhadap nasib bangsa. Saatnya kita mengisi celah – celah kosong di tiang
negara ini. Negara butuh orang yang baik,
butuh orang jujur yang cerdas. Siapa lagi yang akan mempedulikan mereka yang
dibawah. Jika orang yang diatasterus memanjat keatas, tak mau mengulurkan
tangan kebawah.
SALAM
PERBAIKAN BANGSA..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar