Minggu, 15 April 2012


Apa Ea JuduL’a??  ^_^
Siang yang panas, begitu membakar kulit. Jalanan beraspal mengepulkan asap menambah kengiluan hati.  Sudut mata semakin menyempit, menutup ruang untuk cahaya yang terlalu ganas, seganas kehidupan ini. Tiba – tiba mata ini tersapu oleh pemandangan yang sebenarnya sudah tak  asing lagi sebenarnya, namun selalu saja menggeramkan hati, membakar amarah ini.
Anak – anak kecil yang dengan santainya mondar – mandir perempatan jalan, bermandikan teriknya mentari, mencemooh panasnya aspal dengan kaki mungilnya yang telanjang tanpa alas. Menghampiri setiap kendaraan untuk meminta sedikit hak mereka, hanya untuk sekedar bertahan hidup mengisi perut. Lambung yang smeula pedih mengiris – iris, sejenak penuh. Lapar yang mendera telah beralih menjadi milik mereka. Banyak banyak bayangan yang menggeliat di depan mata, saat dikampus sedikit rasa lapar menjadi alasan untuk berhenti berpikir, sedikit rasa lelah menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Merasa diri ini insan paling teraniaya.
Namun siapa kira. Disaat yang sama begitu banyak insan yang lebih menderita. Mata emang hanya ada dua, rasa manusia memang serakah. Namun jiwa manusia masih punya nurani. Mengapa mereka tidak malu? Mengapa mereka tidak mencari pekerjaan lain? Apa mereka tidak sekolah? Siapa yang salah?
Karena rasa malu mereka telah terjual oleh kerasnya kehidupan, karena mereka belum bisa melakukan pekerjaan lain. Karena mereka tak bisa sekolah, mereka disingkirkan oleh sekolah. Siapa yang salah? Mau menyalahkan siapa? Negara? Orang tua mereka? Dinas pendidikan? Sekolah yang tak mau menerima mereka?? Ini salah kita yang maish punya hati, salah kita yang masih bisa menikmati semua ini.
Sekolah – sekolah hanya ada orang punya duit, sekolah – sekolah menjadi milik pribadi yang kebijakannya disesuaikan kebutuhan pemiliknya. Sekolah diisi mereka yang tak pernah merasakan sempitnya hidup. Mereka yang tidak melihat hidup rakyat jelata. Lalu kemana mereka yang tak punya uang, kemana mereka yang tak mampu membeli bangku sekolah. Dari mana ilmu yang mereka butuhkan. Bagaimana nasib bangsa jika orang – orang terididiknya adalah mereka yang tak punya hati. Bagaimana mereka dapat memperjuangkan rakyat, tahu akan yang dirasakan oleh rakyat saja tidak.
Masih ada waktu untuk memperbaiki semua, kita yang masih punya hati, kita yang punya rasa iba terhadap nasib bangsa. Saatnya kita mengisi celah – celah kosong di tiang negara ini. Negara  butuh orang yang baik, butuh orang jujur yang cerdas. Siapa lagi yang akan mempedulikan mereka yang dibawah. Jika orang yang diatasterus memanjat keatas, tak mau mengulurkan tangan kebawah.
SALAM PERBAIKAN BANGSA..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar