IBU
Sebening tetesan embun pagi...
Secerah sinarya mentari...
Bila ku tatap wajahmu ....ibu
Ada kehangatan didalam hatiku
Air wudhu slalu membasahimu
Ayat suci slalu dikumandangkan
Suaramu penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra putrinya
Oh ibuku
Engkaulah wanita.....
Yang kucinta selama hidupku
Maafkan diriku bila ada salah
Pengorbananmu tanpa balas jasa
Ya Allah ampuni dosanya
Sayangilah seperti menyayangiku
Berilah dia kebahagiaan
Didunia juga diakhirat
Shaka
Ibu, hari ini
aku menerima gaji pertamaku. Hasil kerjaku selama satu bulan kemarin. Ibu, baru
aku tahu lelahnya bekerja, baru aku rasa harga sebuah perjuangan. Nikmatnya
makan setelah lapar lama tertahan.
Ibu.
Perjuanganmu sejak dulu tak kan terhapus oleh waktu. Tak kan terbayar oleh
apapun. Masa – masa perjuangan itu kan
ku kenang selalu. Saat beras menjadi
barang yang langka, singkong satu – satunya harta. Sungguh nakal mulut kecil
anakmu tak mau menerima. Tangis nanar menyayat –nyayat jiwa. Rasa tak tega,
rasa bersalah, rasa gagal memberi yang terbaik bercampur aduk didadamu. Ibu, maafkan aku.
Waktumu habis
untuk mengurusi kami anak – anakmu. Siang engkau sibuk bekerja di ladang. Malam
engkau masih sempatkan untuk menenmaniku belajar. Saat ku tidur engkau masih
terjaga memastikan semua telah istirahat. Tengah malah diantar indahnya
mimpiku, kau telah bangun menumbuk jagung unruk makan tiga hari kedepan
ditemani remang – remang lampu tempel yang terombang ambing angin malam. Dinginnya
malam ynag menusuk masuk melalui sela – sela dinding bambu tak kau rasa, bahkan
kau mandi keringat berjuang uttuk memberi makan kami fajar nanti. Lelah yang
mendera menjadi teman keseharianmu.
Waktu berjalan
semakin jauh, gurat – gurat keletihan menghiasi wajahmu. Namun sinar keikhlasan
dan semangat juang itu tak pernah surut, semakin kuat bahkan. Malam yang
tersisa kau tundukkan hati pada Robbi memohonkan yang terbaik utuk kami anak –
anakmu.
Ini aku
bekerja untuk diri sendiri terasa begitu berat, bisa aku bayangkan perjuanganmu
di pelosok negeri itu, untuk menghidupi kami ditengah keterbatasan. Jarak tak
menjadi penghalangmu mencari rezeki, berat tak mengapa bagimu asal kami makan
hari itu.
Sosok wanita
yang tangguh kutemukan padamu. Sore itu hujan mengguyur begitu derasnya. Angin
datang menggulung – gulung siap menerjang rumah kita yang sudah rapuh. Pohon –
pohon di hutan sebelah rumah beberapa telah berhasil ditumbangkan. Ibu tinggal
menunggu hitungan waktu angin itu mencapai rumah kita. Ibu, ayah bagaimana?
Ayah dimana sekarang?. Kau hanya mendekapku, menenangkanku, meyakinkanku semua
akan baik – baik saja. Kau tarik ku kasana kemari mencari tempat yang aman
untuk berlindung. hari ini aku jauh disini. mohon doa restu ibu,, agar dimudahkan langkahku menggapai citamu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar