Minggu, 30 Desember 2012

Untukmu Ibu


IBU

Sebening tetesan embun pagi...
Secerah sinarya mentari...
Bila ku tatap wajahmu ....ibu
Ada kehangatan didalam hatiku
Air wudhu slalu membasahimu
Ayat suci slalu dikumandangkan
Suaramu penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra putrinya
Oh ibuku
Engkaulah wanita.....
Yang kucinta selama hidupku
Maafkan diriku bila ada salah
Pengorbananmu tanpa balas jasa
Ya Allah ampuni dosanya
Sayangilah seperti menyayangiku
Berilah dia kebahagiaan
Didunia juga diakhirat
Shaka

Ibu, hari ini aku menerima gaji pertamaku. Hasil kerjaku selama satu bulan kemarin. Ibu, baru aku tahu lelahnya bekerja, baru aku rasa harga sebuah perjuangan. Nikmatnya makan setelah lapar lama tertahan.
Ibu. Perjuanganmu sejak dulu tak kan terhapus oleh waktu. Tak kan terbayar oleh apapun. Masa – masa  perjuangan itu kan ku kenang selalu.  Saat beras menjadi barang yang langka, singkong satu – satunya harta. Sungguh nakal mulut kecil anakmu tak mau menerima. Tangis nanar menyayat –nyayat jiwa. Rasa tak tega, rasa bersalah, rasa gagal memberi yang terbaik bercampur aduk didadamu.  Ibu, maafkan aku.
Waktumu habis untuk mengurusi kami anak – anakmu. Siang engkau sibuk bekerja di ladang. Malam engkau masih sempatkan untuk menenmaniku belajar. Saat ku tidur engkau masih terjaga memastikan semua telah istirahat. Tengah malah diantar indahnya mimpiku, kau telah bangun menumbuk jagung unruk makan tiga hari kedepan ditemani remang – remang lampu tempel yang terombang ambing angin malam. Dinginnya malam ynag menusuk masuk melalui sela – sela dinding bambu tak kau rasa, bahkan kau mandi keringat berjuang uttuk memberi makan kami fajar nanti. Lelah yang mendera menjadi teman keseharianmu.
Waktu berjalan semakin jauh, gurat – gurat keletihan menghiasi wajahmu. Namun sinar keikhlasan dan semangat juang itu tak pernah surut, semakin kuat bahkan. Malam yang tersisa kau tundukkan hati pada Robbi memohonkan yang terbaik utuk kami anak – anakmu.
Ini aku bekerja untuk diri sendiri terasa begitu berat, bisa aku bayangkan perjuanganmu di pelosok negeri itu, untuk menghidupi kami ditengah keterbatasan. Jarak tak menjadi penghalangmu mencari rezeki, berat tak mengapa bagimu asal kami makan hari itu.
Sosok wanita yang tangguh kutemukan padamu. Sore itu hujan mengguyur begitu derasnya. Angin datang menggulung – gulung siap menerjang rumah kita yang sudah rapuh. Pohon – pohon di hutan sebelah rumah beberapa telah berhasil ditumbangkan. Ibu tinggal menunggu hitungan waktu angin itu mencapai rumah kita. Ibu, ayah bagaimana? Ayah dimana sekarang?. Kau hanya mendekapku, menenangkanku, meyakinkanku semua akan baik – baik saja. Kau tarik ku kasana kemari mencari tempat yang aman untuk berlindung. hari ini aku jauh disini. mohon doa restu ibu,, agar dimudahkan langkahku menggapai citamu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar